Harga Cabai Rawit Merah Hampir Rp100 Ribu, Ini Penyebabnya

Editor Ari Armansyah
Waktu baca Menghitung...
Diterbitkan

Otakonline.com - Jakarta, harga cabai rawit merah terus mengalami kenaikan dan kini hampir menyentuh Rp100.000 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi ketika stok cabai di pasaran semakin terbatas.

Harga Cabai Rawit Merah Hampir Rp100 Ribu, Pedagang Warteg Kelimpungan

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengatakan seluruh harga cabai saat ini mengalami kenaikan. Namun, cabai rawit merah mencatat kenaikan yang cukup tinggi.

Di tingkat petani, harga cabai rawit merah sudah mencapai sekitar Rp60.000 hingga Rp65.000 per kg. Sementara itu, harga di pasar bisa mencapai Rp90.000 sampai Rp100.000 per kg.

Harga Cabai Rawit Merah Capai Rp96.100 per Kg

Abdul Hamid menjelaskan kenaikan harga cabai rawit merah berkaitan dengan terbatasnya stok. Saat ini, produksi cabai lebih banyak berasal dari wilayah dataran rendah.

Sementara itu, tanaman cabai di wilayah dataran tinggi sudah tidak tersedia. Kondisi tersebut membuat pasokan cabai semakin terbatas di tengah kebutuhan pasar.

“Cabai rawit memang ada kenaikan ya. Kenaikan di petani itu sekitar Rp60.000 per kg sampai Rp65.000 per kg. Jadi pas sampai (masyarakat) Rp100. Jadi memang kondisi pasar ini sekarang,” ujar Abdul Hamid saat dihubungi detikcom, Minggu, 20 September 2026.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia pada hari yang sama menunjukkan kenaikan pada sejumlah jenis cabai.

Harga cabai rawit merah naik 6,78% atau sekitar Rp6.100 per kg. Dengan kenaikan tersebut, harganya mencapai Rp96.100 per kg.

Selain itu, cabai merah keriting juga mengalami kenaikan sebesar 9,42%. Harganya bertambah sekitar Rp5.950 per kg menjadi Rp69.100 per kg.

Kemudian, harga cabai merah besar naik 6,23% atau sekitar Rp3.400 per kg. Harganya mencapai Rp58.000 per kg.

Sementara itu, cabai rawit hijau naik 4,81% atau sekitar Rp3.100 per kg. Harga komoditas tersebut mencapai Rp67.600 per kg.

Produksi Cabai Terbatas di Dataran Rendah

Abdul Hamid mengatakan keterbatasan produksi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga. Saat ini, petani lebih banyak menghasilkan cabai dari wilayah dataran rendah.

Kondisi berbeda terjadi di wilayah dataran tinggi. Tanaman cabai di wilayah tersebut sudah tidak tersedia.

Menurut Abdul, kondisi tersebut berkaitan dengan kemarau yang berlangsung cukup panjang. Jika situasi tersebut terus terjadi, pasokan cabai berpotensi semakin terbatas.

“Apakah akan naik lagi? Tergantung dari musim, kalau seandainya kondisinya begini terus sampai November, bakal susah kita,” katanya.

Karena itu, perkembangan cuaca menjadi salah satu faktor penting bagi produksi cabai. Perubahan kondisi musim dapat memengaruhi ketersediaan tanaman dan jumlah cabai yang masuk ke pasar.

Terlebih lagi, cabai merupakan komoditas yang membutuhkan pasokan secara berkelanjutan. Ketika produksi berkurang, tekanan terhadap harga dapat semakin besar.

Penanaman Baru Belum Langsung Tambah Stok

Abdul Hamid juga menjelaskan rencana penanaman baru pada Oktober hingga November. Namun, penanaman tersebut belum tentu langsung menambah stok cabai secara signifikan.

Pasalnya, produksi yang tersedia masih berasal dari wilayah dataran rendah. Dengan kondisi tersebut, jumlah pasokan belum bisa meningkat secara cepat.

Sementara itu, kondisi normal diperkirakan terjadi pada Desember hingga Januari. Namun, periode tersebut juga menghadirkan tantangan lain karena memasuki musim hujan.

Perubahan musim menjadi perhatian karena keberhasilan produksi cabai sangat berkaitan dengan kondisi tanaman. Jika kondisi tanaman tidak mendukung, pasokan bisa kembali mengalami tekanan.

Abdul bahkan memperkirakan harga dapat bergerak lebih tinggi jika kondisi produksi tidak membaik.

“Kalau sananya nggak ada. Gagal semua ya bisa-bisa sampai Rp100.000-Rp120.000/kg (di masyarakat) di petani ya Rp70.000-Rp80.000/kg,” ujarnya.

Harga Cabai Berpotensi Terus Berubah

Pergerakan harga cabai rawit merah masih sangat berkaitan dengan kondisi pasokan. Saat stok terbatas, harga di tingkat petani ikut meningkat dan kemudian memengaruhi harga di pasar.

Saat ini, harga di tingkat petani berada sekitar Rp60.000 hingga Rp65.000 per kg. Selanjutnya, harga di tingkat masyarakat dapat mencapai Rp90.000 sampai Rp100.000 per kg.

Data PIHPS BI juga menunjukkan posisi harga cabai rawit merah yang sudah mencapai Rp96.100 per kg. Angka tersebut membuat komoditas ini semakin mendekati level Rp100.000 per kg.

Namun, perkembangan harga berikutnya tetap berkaitan dengan kondisi musim dan produksi. Jika pasokan kembali meningkat, tekanan harga dapat berubah.

Sebaliknya, jika kemarau panjang terus menghambat produksi, harga cabai berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Kondisi tersebut terutama perlu diperhatikan hingga memasuki periode penanaman dan musim hujan.

Cabai Lain Juga Mengalami Kenaikan

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai rawit merah. Beberapa jenis cabai lain juga mencatat kenaikan pada Minggu, 20 September 2026.

Berdasarkan data PIHPS BI, pergerakan harga masing-masing jenis cabai tercatat sebagai berikut:

  • Cabai merah keriting: naik 9,42% atau sekitar Rp5.950 menjadi Rp69.100 per kg.
  • Cabai rawit merah: naik 6,78% atau sekitar Rp6.100 menjadi Rp96.100 per kg.
  • Cabai merah besar: naik 6,23% atau sekitar Rp3.400 menjadi Rp58.000 per kg.
  • Cabai rawit hijau: naik 4,81% atau sekitar Rp3.100 menjadi Rp67.600 per kg.

Dengan demikian, kenaikan terjadi pada beberapa jenis cabai sekaligus. Cabai merah keriting bahkan mencatat kenaikan persentase yang lebih tinggi dibanding cabai rawit merah.

Sementara itu, cabai rawit merah memiliki harga paling tinggi di antara jenis cabai yang tercantum dalam data tersebut. Harganya kini berada di kisaran Rp96.100 per kg.

Kesimpulan

Harga cabai rawit merah hampir menyentuh Rp100.000 per kg. Di tingkat petani, harganya sudah berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp65.000 per kg.

Abdul Hamid menyebut keterbatasan stok menjadi salah satu faktor kenaikan. Produksi saat ini lebih banyak berasal dari dataran rendah, sedangkan tanaman di dataran tinggi sudah tidak tersedia.

Selain itu, kemarau panjang dapat memengaruhi keberlanjutan produksi. Jika kondisi tersebut berlanjut hingga November, harga cabai berpotensi menghadapi tekanan lebih lanjut.

Penanaman baru pada Oktober hingga November juga belum tentu langsung menambah pasokan. Sementara itu, kondisi produksi yang lebih normal diperkirakan berlangsung pada Desember hingga Januari dengan tantangan musim hujan.

FAQ

Berapa harga cabai rawit merah saat ini?
Berdasarkan data PIHPS BI pada 20 September 2026, harga cabai rawit merah mencapai Rp96.100 per kg.

Berapa harga cabai rawit merah di tingkat petani?
Abdul Hamid menyebut harga di tingkat petani berada sekitar Rp60.000 hingga Rp65.000 per kg.

Mengapa harga cabai rawit merah naik?
Kenaikan berkaitan dengan terbatasnya stok dan produksi yang saat ini lebih banyak berasal dari dataran rendah.

Kapan produksi cabai diperkirakan kembali normal?
Abdul Hamid menyebut kondisi normal diperkirakan terjadi pada Desember hingga Januari.

Apakah harga cabai masih bisa naik?
Abdul Hamid mengatakan pergerakan harga bergantung pada kondisi musim. Jika kondisi saat ini terus berlangsung hingga November, harga berpotensi meningkat.