Otakonline.com - Jakarta, saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mengalami tekanan besar pada perdagangan Selasa, 15 September 2026. Penurunan terjadi setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan atau OTT di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bogor.
Pergerakan SMRA langsung masuk zona merah sejak awal perdagangan. Saham tersebut membuka sesi pada level Rp328 per saham. Setelah itu, tekanan jual membuat harga saham terus melemah hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, SMRA akhirnya turun 13,25% ke level Rp288 per saham. Penurunan tersebut terjadi ketika Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto Pitojo Adhi, turut terjaring dalam OTT KPK tersebut.
Saham SMRA Anjlok 13,25%
Penurunan saham SMRA menjadi perhatian dalam perdagangan hari ini. Harga saham turun dari posisi pembukaan Rp328 hingga berakhir di Rp288 per saham.
Selain penurunan harga, aktivitas perdagangan SMRA juga cukup besar. Volume transaksi tercatat mencapai 186,74 juta saham. Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp56,18 miliar.
Frekuensi perdagangan saham SMRA tercatat sebanyak 8.877 kali. Angka tersebut menunjukkan tingginya aktivitas transaksi sepanjang perdagangan saham pada hari tersebut.
Tekanan terhadap saham SMRA juga terlihat dari pergerakan investor asing. Pada perdagangan hari ini, investor asing mencatat aksi jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp2,89 miliar.
Dengan demikian, tekanan terhadap saham SMRA tidak hanya terlihat dari penurunan harga. Aktivitas jual bersih investor asing juga menjadi bagian dari dinamika perdagangan saham tersebut.
Bos Summarecon Terjaring OTT KPK
Pergerakan saham SMRA terjadi setelah KPK melakukan OTT di lingkungan BPN Kabupaten Bogor. Dalam operasi tersebut, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto Pitojo Adhi, menjadi salah satu pihak yang terjaring.
Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan keterlibatan Adrianto dalam OTT tersebut. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 15 September 2026.
"Benar (Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto Pitojo Adhi, ikut terjaring OTT)," kata Budi seperti dikutip dari detikNews.
Selain Adrianto, KPK menangkap sejumlah pihak lainnya dalam operasi tersebut. Total terdapat 17 orang yang ditangkap KPK.
Di antara pihak yang terjaring terdapat Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (PPTR), Lampri. Selain itu, Kepala Kantor Pertanahan (Kantah) Bogor, Sontang Coin Manurung, serta Kepala Kantor Pertanahan Tangerang, Tardi, juga termasuk dalam operasi tersebut.
Net Foreign Sell SMRA Capai Rp274,94 Miliar
Tekanan terhadap saham SMRA juga terlihat dalam catatan transaksi investor asing sepanjang tahun berjalan. Pada perdagangan 15 September 2026, investor asing mencatat net foreign sell sebesar Rp2,89 miliar.
Sementara itu, secara kumulatif sepanjang 2026, net foreign sell SMRA telah mencapai Rp274,94 miliar. Data tersebut menunjukkan bahwa investor asing mencatat penjualan bersih atas saham SMRA dalam jumlah cukup besar sepanjang tahun berjalan.
Namun, pergerakan pada perdagangan hari ini berlangsung dalam situasi yang berbeda. Penurunan 13,25% membuat harga SMRA berakhir jauh di bawah harga pembukaan.
Karena itu, perhatian pasar tertuju pada respons investor terhadap perkembangan yang melibatkan jajaran manajemen perusahaan. Tekanan tersebut tercermin dari pelemahan harga saham dan transaksi jual bersih investor asing.
Aktivitas Perdagangan SMRA
Perdagangan SMRA pada Selasa menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Volume saham yang berpindah tangan mencapai 186,74 juta saham dengan nilai transaksi Rp56,18 miliar.
Selain itu, frekuensi perdagangan mencapai 8.877 kali. Saham SMRA juga langsung berada di zona merah sejak pembukaan perdagangan pada level Rp328.
Selanjutnya, tekanan jual membawa harga saham turun hingga Rp288 saat penutupan. Dengan harga tersebut, SMRA mencatat penurunan sebesar 13,25% dalam perdagangan hari itu.
Pergerakan tersebut memperlihatkan perubahan harga yang cukup tajam dalam satu sesi perdagangan. Investor juga mencermati perkembangan terkait OTT KPK yang melibatkan Presiden Direktur Summarecon Agung.
Di sisi lain, catatan net foreign sell sepanjang 2026 menjadi bagian lain yang turut mewarnai perdagangan saham SMRA. Nilainya mencapai Rp274,94 miliar hingga periode tersebut.
Perhatian Pasar Tertuju pada SMRA
Kasus OTT KPK di BPN Kabupaten Bogor menjadi perkembangan penting yang terjadi bersamaan dengan penurunan tajam saham SMRA. Keterlibatan Presiden Direktur perusahaan dalam operasi tersebut mendapat perhatian karena berlangsung pada hari perdagangan saham.
Sementara itu, harga SMRA bergerak turun sejak pasar dibuka. Dari Rp328 per saham pada pembukaan, harga kemudian berakhir pada Rp288 per saham.
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan volume 186,74 juta saham, nilai transaksi Rp56,18 miliar, serta frekuensi 8.877 kali. Pada saat yang sama, investor asing mencatat net foreign sell Rp2,89 miliar.
Dengan demikian, perdagangan SMRA pada 15 September 2026 berlangsung di tengah perhatian besar terhadap perkembangan OTT KPK tersebut. Investor mencermati pergerakan saham sekaligus perkembangan yang melibatkan Presiden Direktur perusahaan.
Kesimpulan
Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) anjlok 13,25% ke level Rp288 pada penutupan perdagangan 15 September 2026. Sebelumnya, saham tersebut dibuka pada level Rp328 per saham.
Penurunan berlangsung setelah Presiden Direktur SMRA, Adrianto Pitojo Adhi, terjaring OTT KPK di BPN Kabupaten Bogor. KPK membenarkan bahwa Adrianto menjadi salah satu dari 17 orang yang ditangkap dalam operasi tersebut.
Selain tekanan harga, SMRA mencatat net foreign sell Rp2,89 miliar pada perdagangan hari ini. Sementara itu, sepanjang 2026, net foreign sell SMRA tercatat mencapai Rp274,94 miliar.
FAQ
Mengapa saham SMRA anjlok?
Saham SMRA anjlok setelah Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto Pitojo Adhi, terjaring OTT KPK di BPN Kabupaten Bogor.
Berapa harga penutupan saham SMRA?
SMRA ditutup pada level Rp288 per saham pada perdagangan 15 September 2026.
Berapa besar penurunan saham SMRA?
Saham SMRA turun 13,25% dari perdagangan sebelumnya.
Berapa volume perdagangan SMRA?
Volume perdagangan SMRA tercatat sebesar 186,74 juta saham.
Berapa net foreign sell SMRA?
Net foreign sell SMRA mencapai Rp2,89 miliar pada perdagangan hari tersebut. Sepanjang 2026, nilainya tercatat Rp274,94 miliar.
