
Otakonline.com - Jakarta, Strategic Stability Indonesia dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus membangun fondasi penguatan Rupiah yang kredibel dan berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan dalam artikel kelima seri pemikiran Batara Maju Simatupang bertajuk Membangun Arsitektur Strategic Stability Indonesia. Tulisan itu merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com.
Gejolak geopolitik, perang dagang, volatilitas pasar keuangan, perubahan harga komoditas, gangguan rantai pasok, dan percepatan digitalisasi membuat ketahanan ekonomi tidak cukup diukur dari cadangan devisa.
Cadangan Devisa Menjadi Benteng Pertama
Posisi cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$145,3 miliar, relatif stabil dibandingkan US$145,6 miliar pada Juni. Nilai tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Cakupan itu berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Karena itu, tantangan strategis Indonesia bukan lagi sekadar kecukupan cadangan, melainkan bagaimana mengubahnya menjadi kredibilitas nilai tukar, ruang kebijakan, dan kapasitas pertumbuhan.
Strategic Stability Indonesia dan Arah Rupiah
Artikel tersebut membahas gagasan Strategic Exchange Rate menuju Rp15.000 per dolar AS. JISDOR Bank Indonesia pada 4 September 2026 berada di level Rp17.636 per dolar AS, sehingga penguatan menuju Rp15.000 membutuhkan apresiasi sekitar 14,95 persen.
Target itu dinilai bukan koreksi marginal dan tidak dapat dicapai hanya melalui intervensi pasar valuta asing. Penguatan Rupiah perlu ditopang cadangan devisa, surplus eksternal, arus modal berkualitas, inflasi yang terkendali, produktivitas, serta kredibilitas kebijakan.
Dengan cadangan devisa US$145,344 miliar, nilai cadangan pada kurs Rp15.000 mencapai sekitar Rp2.180,2 triliun atau setara 21 persen dari M2. Namun, kekuatan aritmetika tersebut tetap harus didukung fundamental ekonomi agar penguatan Rupiah berlangsung kredibel.
Dari Cadangan Menuju Mesin Pertumbuhan
Ketahanan eksternal perlu dibangun melalui kemampuan ekonomi domestik menghasilkan devisa. Caranya mencakup ekspor barang bernilai tambah, hilirisasi, industrialisasi, pariwisata, jasa, ekonomi digital, investasi asing langsung, substitusi impor strategis, dan peningkatan produktivitas.
Pasar keuangan domestik juga menjadi benteng kedua. Pasar uang, valuta asing, modal, dan derivatif yang dalam dapat menyediakan pembiayaan serta instrumen lindung nilai, sehingga cadangan devisa tidak menjadi satu-satunya penahan gejolak.
Arsitektur tersebut mencakup tujuh pilar, yaitu kapasitas keuangan, kapasitas kelembagaan, ketahanan teknologi, koordinasi kebijakan, kepercayaan publik, kapasitas produktif, dan kedaulatan ekonomi eksternal.
Pada akhirnya, Strategic Stability tidak hanya bertujuan membangun Rupiah yang lebih kuat. Kerangka ini diarahkan untuk menciptakan ekonomi yang mampu meningkatkan produktivitas, ekspor, investasi, dan pertumbuhan secara berkelanjutan.