Tekanan Rupiah Meningkat, BI Soroti Yield AS dan Kebutuhan Dolar

Editor Otak Online
Waktu baca Menghitung...
Diterbitkan

Otakonline.com - Jakarta, tekanan rupiah kembali menjadi perhatian pasar setelah Bank Indonesia (BI) melihat sejumlah faktor global dan domestik yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Tekanan Rupiah Meningkat, BI Soroti Yield AS dan Kebutuhan Dolar

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) turut menekan rupiah. Kondisi itu muncul di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan outlook fiskal.

Selain itu, kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun ikut memperkuat tekanan terhadap mata uang rupiah. Yield tersebut bahkan mencapai 5,11%, level tertinggi sejak 2007.

Tekanan Rupiah Dipengaruhi Yield AS

Erwin menjelaskan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS membuat pasar kembali memperhatikan aset berbasis dolar. Kenaikan yield surat utang AS kemudian mendorong aset dolar mengalami tekanan penguatan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tekanan rupiah. Pasar juga menghadapi ketidakpastian dari perkembangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.

"Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas US$ 100 per barel," kata Erwin.

Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Perkembangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap harga energi juga ikut menjadi perhatian pelaku pasar.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan perhatian terhadap kondisi ekonomi global. Karena itu, perkembangan konflik dan pasokan minyak menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pasar.

Kebutuhan Valas Domestik Ikut Menekan Rupiah

Sementara itu, faktor domestik juga memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Kebutuhan valuta asing atau valas meningkat menjelang berakhirnya kuartal III 2026.

BI menyebut kebutuhan valas importir menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai tukar. Selain itu, terdapat arus keluar portofolio dari aset emerging markets.

"Dari domestik, tekanan nilai tukar dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III dan arus keluar portofolio dari aset emerging markets," ungkap Erwin.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, pasar menghadapi perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS serta ketidakpastian geopolitik.

Di sisi lain, kebutuhan dolar di dalam negeri ikut meningkat. Kondisi itu muncul ketika aktivitas importir dan pergerakan portofolio turut memengaruhi permintaan valas.

BI Perkuat Stabilisasi Nilai Tukar

Menghadapi tekanan tersebut, BI terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral juga berupaya memastikan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental dan mekanisme pasar berjalan baik.

"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik," ujar Erwin.

Selanjutnya, BI memperkuat strategi operasi moneter pro-market. Strategi tersebut diarahkan untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang.

BI menjalankan stabilisasi melalui sejumlah instrumen di pasar offshore maupun domestik. Langkah tersebut mencakup:

  • Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

  • Transaksi spot di pasar domestik.

  • Transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Erwin mengatakan BI menjalankan intervensi tersebut secara konsisten. Dengan strategi itu, BI berupaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung berjalannya mekanisme pasar.

Selain intervensi pasar, BI juga meningkatkan insentif Swap dan DNDF lindung nilai kepada perbankan. Kebijakan tersebut berkaitan dengan kebutuhan pendanaan luar negeri.

Kemudian, BI memperluas transaksi underlying. Perluasan itu mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, serta foreign direct investment (FDI).

Langkah tersebut juga berkaitan dengan upaya memperkuat efektivitas stabilisasi dan kecukupan likuiditas. Karena itu, BI tidak hanya mengandalkan satu instrumen dalam menjaga pergerakan rupiah.

Pergerakan Rupiah Masih Sejalan dengan Kawasan

Meski tekanan meningkat, BI menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.

Erwin mencatat rupiah mengalami penguatan sebesar 0,46% secara quarter-to-date (qtd). Data tersebut menunjukkan posisi pergerakan rupiah jika dibandingkan dengan kondisi pada awal periode kuartal berjalan.

"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,46%," kata Erwin.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia juga menunjukkan peningkatan. Pada akhir Agustus 2026, posisi cadangan devisa tercatat mencapai US$ 146,5 miliar.

Cadangan devisa menjadi salah satu bagian penting dalam kondisi eksternal perekonomian. Di tengah tekanan nilai tukar, posisi tersebut menjadi bagian dari perkembangan yang terus diperhatikan.

BI juga memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika pasar global dan domestik.

Tekanan Rupiah Masih Dipantau BI

Tekanan rupiah saat ini berkaitan dengan sejumlah perkembangan yang terjadi secara bersamaan. Dari luar negeri, pasar menghadapi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS, kenaikan yield US Treasury, serta ketidakpastian konflik Timur Tengah.

Terlebih lagi, harga minyak Brent kembali berada di atas US$ 100 per barel. Kondisi tersebut menambah perhatian pasar terhadap risiko pasokan energi dunia.

Sementara itu, dari dalam negeri, kebutuhan valas importir meningkat menjelang akhir kuartal III 2026. Arus keluar portofolio dari aset emerging markets juga turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar.

Oleh karena itu, BI terus menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah. Strategi tersebut mencakup intervensi di pasar offshore dan domestik, penguatan operasi moneter pro-market, serta peningkatan insentif lindung nilai.

Dengan demikian, perkembangan rupiah selanjutnya akan tetap berkaitan dengan dinamika global dan kebutuhan valas domestik. BI juga terus memantau kondisi pasar serta berkoordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Otak Online
Media informasi seputar Berita terkini, Kripto, Airdrop,Teknologi, Gadget, Industri Game, Industri Film, Lifestyle etc.