
Otakonline.com - Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (30/9/2026) dalam tekanan. IHSG turun 0,83% ke level 6.071,14. Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing yang mencatat penjualan bersih Rp1,56 triliun di pasar reguler.
Sejumlah saham masih mampu menopang pergerakan indeks. UNTR naik 7,55%, sedangkan MORA menguat 1,99%. Selain itu, EMAS mencatat kenaikan 2,32% pada perdagangan yang sama.
Namun, beberapa saham berkapitalisasi besar justru mengalami tekanan. GOTO turun 13,51%, sementara TLKM melemah 3,38%. BBCA juga turun 1,22%. Jika menghitung seluruh pasar, investor asing mencatat penjualan bersih mencapai Rp1,61 triliun.
Delapan Sektor Saham Berakhir Melemah
Tekanan IHSG terjadi di sebagian besar sektor saham. Sebanyak delapan dari 11 sektor berakhir melemah pada perdagangan Rabu.
Sektor teknologi mencatat koreksi paling dalam dengan penurunan 2,76%. Di sisi lain, sektor industri masih mampu menguat 1,17% dan menjadi salah satu sektor yang menopang pasar.
Pergerakan bursa global juga berlangsung beragam. Pada perdagangan terakhir, Dow Jones turun 0,86% ke level 50.906. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 0,25% ke 7.651.
Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq justru naik 0,24% ke level 26.861. ETF EIDO juga turun 0,85%, sedangkan indeks MSCI Indonesia melemah 1,12%.
Aktivitas Short Selling Mulai Berlaku 1 Oktober
Pelaku pasar juga mencermati mulai berlakunya aktivitas short selling pada 1 Oktober. Sejumlah saham masuk dalam daftar tersebut, termasuk ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF.
Aktivitas short selling dapat menambah dinamika perdagangan dan memengaruhi pergerakan harga saham. Karena itu, pelaku pasar mencermati perkembangan perdagangan saham yang masuk dalam daftar tersebut.
MITI Kembangkan Tiga Konsesi Tambang Pasir Silika
PT Mitra Investindo Tbk (MITI) menjalin kerja sama dengan PT CNEC Engineering Indonesia (CNEC INA). Kemitraan tersebut bertujuan mengembangkan tiga konsesi tambang pasir silika milik anak usaha MITI.
MITI dan CNEC INA menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada 29 September 2026. CNEC INA merupakan anak usaha China Nuclear Engineering & Construction Corporation, perusahaan milik negara China.
Kerja sama tersebut mencakup sejumlah tahapan pengembangan. Tahapannya meliputi eksplorasi, studi kelayakan, hingga rekayasa teknis. Selain itu, kemitraan tersebut membuka peluang dukungan pendanaan untuk mengembangkan konsesi pasir silika MITI yang belum beroperasi.
Pengembangan tambang tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi pasir silika di Indonesia. Indonesia memiliki cadangan pasir silika sekitar 7,80 miliar ton.
Rantai hilirisasi pasir silika juga mengarah ke industri panel surya. Salah satu tahap pengolahan menghasilkan wafer silikon solar-grade yang menjadi bahan dasar sel surya. Proses hingga tahap tersebut berpotensi meningkatkan nilai tambah material hingga sekitar 1.300 kali lipat.
DEWA Melihat Peluang Kontrak Baru
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melihat peluang memperoleh kontrak baru di luar proyek yang sedang perseroan kerjakan. Peluang tersebut didukung kapasitas operasional berskala besar, ketersediaan armada, kemampuan teknis, serta akses pendanaan.
Perkembangan tersebut muncul setelah pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 365.K/2026. Ketentuan tersebut mengatur pembatasan penggunaan anak usaha dan afiliasi pemegang Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP) di sektor mineral dan batu bara.
DEWA menyatakan ketentuan tersebut tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan perseroan. Perseroan juga masih dapat menyesuaikan struktur perizinan dan operasional dengan ketentuan yang berlaku.
DEWA merupakan kontraktor independen bagi Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia. Perseroan telah melaporkan keterlibatannya dalam kegiatan tersebut dan memperoleh persetujuan Kementerian ESDM melalui RKAB tahunan.
KPC dan Arutmin Indonesia juga terlibat dalam proyek strategis nasional gasifikasi batu bara melalui Bumi Etam Chemical. Selain itu, keduanya memperoleh penugasan domestic market obligation (DMO) dengan total pasokan mencapai 22,30 juta ton.
Jumlah tersebut setara sekitar 30% dari penjualan batu bara domestik pada 2025. Angka tersebut juga setara sekitar 9% dari kebutuhan nasional. Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kegiatan operasional DEWA masuk dalam pengecualian pembatasan tersebut.
AALI Bagikan Dividen Interim Rp233 per Saham
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp233 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai sekitar Rp449,02 miliar.
Besaran tersebut menjadi dividen interim per saham tertinggi AALI sejak 2018. Keputusan itu muncul setelah perseroan mencatat pertumbuhan laba bersih pada semester I 2026.
AALI membukukan laba bersih Rp1,10 triliun pada semester pertama 2026. Angka tersebut meningkat 56,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp702,12 miliar.
Pada periode tersebut, AALI juga memiliki saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp19 triliun. Dengan laba bersih semester I 2026, dividen interim Rp233 per saham mencerminkan dividend payout ratio (DPR) sebesar 40,86%.
Sementara itu, saham AALI ditutup pada level Rp8.000 per saham pada perdagangan 30 September 2026. Jika menggunakan harga penutupan tersebut, dividen interim Rp233 per saham setara dengan dividend yield sekitar 2,91%.
Jadwal pembagian dividen AALI juga telah ditetapkan. Cum date di pasar reguler dan negosiasi berlangsung pada 8 Oktober 2026. Kemudian, pembayaran dividen dijadwalkan pada 26 Oktober 2026.
Daftar Rekomendasi Saham Hari Ini
Mega Capital Sekuritas mencantumkan sejumlah saham dalam rekomendasi perdagangan hari ini. Berikut daftar level yang tercantum:
- INKP: Buy 8.150–8.200, TP 8.300–8.450, SL 7.800.
- POWR: Buy 935–945, TP 960–970, SL 890.
- BDMN: Buy 4.420–4.440, TP 4.480–4.520, SL 4.200.
- DMAS: Buy 184–186, TP 188–192, SL 175.
- BIPI: Buy 130–132, TP 135–139, SL 123.
Daftar tersebut merupakan analisis dan rekomendasi saham dari Mega Capital Sekuritas. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar dan risiko masing-masing saham sebelum mengambil keputusan investasi.
Kesimpulan
Perdagangan BEI pada 30 September 2026 berlangsung dalam tekanan. IHSG turun 0,83% ke level 6.071,14, sementara investor asing mencatat penjualan bersih Rp1,56 triliun di pasar reguler.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah aksi korporasi turut menjadi perhatian. MITI mengembangkan konsesi pasir silika bersama CNEC INA, DEWA melihat peluang kontrak baru, sedangkan AALI menetapkan dividen interim Rp233 per saham.
Mulai berlakunya aktivitas short selling pada 1 Oktober juga menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut menambah dinamika perdagangan saham pada periode berikutnya.
Disclaimer: Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.