Harga Emas Melemah, The Fed Hawkish Tekan Logam Mulia
OtakOnline.com - Harga emas melemah setelah pasar merespons sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). Penguatan dolar AS turut memberikan tekanan besar terhadap logam mulia yang selama ini menjadi aset lindung nilai favorit investor.
Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah muncul perkembangan positif dari kawasan Timur Tengah. Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global dan gangguan pasokan energi.
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat investor mulai mengurangi minat terhadap emas. Akibatnya, harga logam mulia kembali mencatat penurunan dalam beberapa hari terakhir dan mencapai level terendah dalam lebih dari sepekan.
Harga Emas Melemah ke Level Terendah Sejak 10 Juni
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga emas pada Kamis (18/6/2026) ditutup di level US$ 4.208,59 per troy ons. Angka tersebut turun 1,15% dibandingkan sesi sebelumnya.
Penurunan itu memperpanjang tren negatif emas yang telah melemah sekitar 2,8% dalam dua hari perdagangan berturut-turut. Posisi tersebut juga menjadi level penutupan terendah sejak 10 Juni 2026.
Sementara itu, tekanan jual masih berlanjut pada perdagangan Jumat pagi (19/6/2026). Hingga pukul 06.42 WIB, harga emas kembali turun 0,32% ke posisi US$ 4.195,31 per troy ons.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih merespons kuat perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
The Fed Hawkish Dorong Dolar AS Menguat
Faktor utama yang menyebabkan harga emas melemah adalah perubahan nada kebijakan The Fed yang dinilai lebih hawkish.
Meskipun bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya, sejumlah pejabat The Fed masih melihat peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Sebanyak sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan pengetatan kebijakan masih diperlukan. Pandangan tersebut membuat pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga berikutnya.
Akibatnya, indeks dolar AS melonjak hingga menyentuh level 100,89. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2025.
Penguatan dolar memberikan tekanan langsung terhadap emas. Sebab, emas diperdagangkan menggunakan mata uang dolar AS.
Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dari negara lain. Karena itu, permintaan cenderung menurun dan harga emas tertekan.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Meningkat
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 85%.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan estimasi sebelumnya yang berada di kisaran 61%. Kenaikan probabilitas itu menunjukkan pasar semakin yakin bahwa The Fed masih akan menjaga kebijakan ketat.
Selain itu, emas dikenal sebagai aset tanpa imbal hasil atau non-yielding asset. Saat suku bunga tinggi, investor sering beralih ke instrumen yang menawarkan bunga lebih menarik.
Karena alasan tersebut, harga emas biasanya menghadapi tekanan ketika ekspektasi suku bunga meningkat.
Gencatan Senjata AS-Iran Kurangi Daya Tarik Emas
Selain kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik juga ikut memengaruhi pergerakan harga emas.
Amerika Serikat dan Iran diketahui telah merilis teks kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sebelumnya. Dokumen tersebut ditandatangani oleh kedua kepala negara sehari sebelum diumumkan ke publik.
Kesepakatan tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar global. Investor mulai melihat risiko geopolitik yang lebih rendah dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Di sisi lain, meredanya konflik membuat harga minyak dunia mengalami tekanan. Kondisi ini membantu menurunkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.
Karena itu, kebutuhan investor terhadap aset aman seperti emas ikut berkurang. Sentimen inilah yang semakin membatasi ruang penguatan logam mulia.
Meskipun begitu, pasar masih mencermati perkembangan hubungan kedua negara. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tindakan militer dapat kembali dilakukan apabila Iran tidak memenuhi komitmen dalam kesepakatan yang telah dibuat.
Prospek Harga Emas Selanjutnya
Pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed dan arah dolar AS.
Beberapa faktor yang akan menjadi perhatian investor antara lain:
- Prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
- Pergerakan indeks dolar AS.
- Data inflasi AS dalam beberapa bulan ke depan.
- Stabilitas geopolitik Timur Tengah.
- Pergerakan harga minyak dunia.
Jika dolar terus menguat, harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Namun, apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat, permintaan terhadap aset safe haven dapat kembali mengangkat harga emas.
Untuk saat ini, harga emas melemah akibat kombinasi sikap hawkish The Fed dan meredanya ketegangan geopolitik global. Kedua faktor tersebut menjadi sentimen dominan yang mengarahkan pergerakan pasar logam mulia sepanjang pekan ini.
.webp)
0 Komentar Untuk "Harga Emas Melemah, The Fed Hawkish Tekan Logam Mulia"
Posting Komentar