Harga Emas Melonjak Usai Perdamaian AS-Iran Redakan Tekanan The Fed

OtakOnline.com - Harga emas melonjak dalam beberapa hari terakhir setelah pasar merespons positif perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang mengubah arah pergerakan pasar global.

Harga Emas Melonjak Usai Perdamaian AS-Iran Redakan Tekanan The Fed

Sentimen tersebut mendorong investor kembali melirik logam mulia sebagai aset investasi. Selain itu, harapan bahwa Federal Reserve atau The Fed tidak akan kembali agresif menaikkan suku bunga ikut memperkuat kenaikan harga emas.

Data perdagangan terbaru menunjukkan harga emas melonjak dan memperpanjang tren penguatan yang sudah berlangsung selama empat hari berturut-turut. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin fokus pada arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang.

Harga Emas Melonjak Empat Hari Beruntun

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (16/6/2026) ditutup di level US$ 4.330,13 per troy ons. Angka tersebut naik 0,56% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kenaikan ini memperpanjang reli emas menjadi sekitar 6,3% dalam empat hari perdagangan berturut-turut. Sementara itu, pada perdagangan Rabu (17/6/2026) pagi pukul 06.34 WIB, harga emas kembali menguat tipis sebesar 0,13% menjadi US$ 4.335,81 per troy ons.

Penguatan tersebut terjadi setelah pasar menyambut baik kabar tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan itu memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya sempat diblokir Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Karena itu, pembukaan kembali jalur tersebut langsung berdampak pada penurunan harga minyak global.

Menurut analis pasar, meredanya ketegangan geopolitik telah mengurangi risiko inflasi yang sebelumnya dikhawatirkan meningkat akibat lonjakan harga energi.

Perdamaian AS-Iran Tekan Harga Minyak Dunia

Kesepakatan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membawa dampak besar terhadap pasar komoditas. Harga minyak Brent bahkan turun di bawah US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret 2026.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Namun, setelah kesepakatan damai diumumkan, harga minyak langsung terkoreksi tajam.

Penurunan harga energi ini menjadi kabar baik bagi pasar keuangan. Sebab, inflasi berpotensi lebih terkendali jika harga minyak tetap rendah dalam beberapa waktu ke depan.

Di sisi lain, meredanya tekanan inflasi membuat peluang kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed semakin kecil. Kondisi tersebut menjadi faktor yang mendukung kenaikan harga emas.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan bahwa prospek berakhirnya perang menjadi faktor terbesar yang menopang harga emas dalam dua sesi perdagangan terakhir.

Menurutnya, dampak langsung dari perkembangan tersebut adalah turunnya suku bunga jangka pendek, melemahnya harga energi, dan berkurangnya kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Mengapa Suku Bunga Penting bagi Harga Emas?

Hubungan antara suku bunga dan emas sangat erat. Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung memilih instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi.

Sebaliknya, ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, emas menjadi lebih menarik karena biaya peluang untuk memegang logam mulia juga ikut berkurang.

Karena itu, setiap perubahan ekspektasi kebijakan The Fed biasanya langsung memengaruhi harga emas global.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun

Data CME FedWatch menunjukkan bahwa pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember sebesar 60%.

Angka tersebut turun dibandingkan pekan lalu yang masih berada di sekitar 70%. Penurunan ekspektasi ini menjadi salah satu alasan utama mengapa harga emas melonjak dalam beberapa hari terakhir.

Selama konflik Timur Tengah berlangsung, harga emas sempat mengalami tekanan. Hal itu terjadi karena lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat suku bunga tinggi diperkirakan bertahan lebih lama.

Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti deposito atau obligasi. Oleh sebab itu, suku bunga tinggi biasanya menjadi tantangan bagi pergerakan harga emas.

Namun kini situasinya mulai berubah. Meredanya konflik membuat tekanan inflasi berkurang sehingga peluang kebijakan moneter yang lebih longgar semakin terbuka.

Keputusan The Fed Jadi Penentu Berikutnya

Pelaku pasar saat ini menunggu hasil rapat Federal Reserve yang digelar pekan ini. Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena merupakan rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Keputusan bank sentral Amerika Serikat diperkirakan menjadi faktor penentu arah harga emas selanjutnya.

Jika The Fed mengambil sikap lebih dovish atau lunak terhadap kebijakan suku bunga, harga emas berpotensi melanjutkan penguatannya. Sebaliknya, jika bank sentral tetap hawkish dan memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih lanjut, harga emas bisa kembali mengalami tekanan.

Selain itu, sikap hawkish juga berpotensi memperkuat nilai dolar AS. Penguatan dolar biasanya membuat permintaan emas menurun karena harga logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor global.

Untuk saat ini, kombinasi antara meredanya konflik AS-Iran, turunnya harga energi, dan melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi bahan bakar utama yang membuat harga emas melonjak. Pasar kini menunggu apakah kebijakan The Fed akan menjadi pendorong baru atau justru penghambat bagi reli emas berikutnya.

0 Komentar Untuk "Harga Emas Melonjak Usai Perdamaian AS-Iran Redakan Tekanan The Fed"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel