Rupiah Diprediksi Tembus Rp 18.000 per Dollar AS Pekan Depan
OtakOnline.com - Rupiah diprediksi tembus Rp 18.000 per dollar AS pada pekan depan seiring meningkatnya tekanan eksternal yang berasal dari penguatan mata uang Amerika Serikat. Sejumlah faktor global dinilai masih menjadi beban bagi pergerakan mata uang Garuda dalam beberapa hari ke depan.
Prediksi tersebut disampaikan Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi. Menurutnya, nilai tukar rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 18.000 per dollar AS selama sepekan mendatang.
Kondisi ini terjadi ketika pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve. Faktor-faktor tersebut mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dollar AS.
Rupiah Diprediksi Tembus Rp 18.000 Akibat Penguatan Dollar AS
Ibrahim memperkirakan indeks dollar AS akan terus menguat dan berpotensi mencapai level 101,7. Penguatan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Untuk perdagangan awal pekan, Senin (22/6/2026), rupiah diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.850 per dollar AS. Sementara itu, sepanjang pekan depan, ruang pelemahan masih terbuka hingga menyentuh level psikologis Rp 18.000.
Menurut Ibrahim, area Rp 17.600 hingga Rp 18.000 menjadi rentang penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika tekanan global terus berlanjut, peluang rupiah menyentuh batas atas rentang tersebut semakin besar.
Selain itu, sentimen dari luar negeri masih mendominasi arah pergerakan pasar keuangan. Karena itu, investor akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan politik internasional.
Geopolitik Global Masih Menjadi Ancaman
Salah satu faktor yang membuat rupiah diprediksi tembus Rp 18.000 adalah ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Meski Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman tahap pertama, pasar masih melihat adanya risiko lanjutan di kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan sejumlah sanksi ekonomi terhadap Iran. Namun, ketegangan di kawasan belum benar-benar berakhir.
Israel dan Lebanon masih terlibat aksi saling serang. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa Iran dapat kembali mengambil langkah tegas apabila kesepakatan damai dilanggar oleh pihak terkait.
Konflik Rusia-Ukraina Masih Membayangi
Selain Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina juga menjadi perhatian pasar global. Serangan terhadap berbagai infrastruktur di Kyiv dilaporkan masih berlangsung dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.
Ketegangan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, terutama minyak mentah. Jika harga minyak naik, tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi bisa semakin besar.
Kondisi itu juga dapat mendorong penguatan dollar AS karena investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman saat ketidakpastian meningkat.
Kebijakan Trump dan The Fed Jadi Sorotan
Pasar juga menyoroti arah kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pemerintah AS diperkirakan kembali mengedepankan kebijakan proteksionisme melalui penerapan tarif resiprokal kepada sejumlah mitra dagang.
Kebijakan tersebut bertujuan memperbaiki neraca perdagangan Amerika Serikat. Namun, langkah itu juga berpotensi meningkatkan ketidakpastian perdagangan global.
Selain itu, perhatian investor tertuju pada kebijakan The Federal Reserve yang kini dipimpin Kevin Walsh. Bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Bahkan, peluang kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka jika inflasi belum turun menuju target 2 persen. Kebijakan suku bunga tinggi biasanya membuat aset berdenominasi dollar AS lebih menarik bagi investor global.
Karena itu, aliran modal cenderung bergerak ke Amerika Serikat. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah menghadapi tekanan yang lebih besar.
Pergerakan Rupiah Masih Perlu Diwaspadai
Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (21/6/2026), rupiah ditutup melemah 10 poin ke level Rp 17.804 per dollar AS. Sebelumnya, mata uang Indonesia berada di posisi Rp 17.794 per dollar AS.
Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlangsung. Sementara itu, berbagai sentimen global diperkirakan tetap menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan pasar pekan depan.
Meskipun Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi, tantangan eksternal masih cukup kuat. Karena itu, pelaku pasar dan masyarakat perlu mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.
Jika sentimen negatif terus berlanjut dan penguatan dollar AS berlanjut, maka skenario rupiah diprediksi tembus Rp 18.000 bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan risiko yang perlu diantisipasi oleh pasar keuangan nasional.
.webp)
0 Komentar Untuk "Rupiah Diprediksi Tembus Rp 18.000 per Dollar AS Pekan Depan"
Posting Komentar