Harga Avtur Naik, Tiket Pesawat Berpotensi Lebih Mahal

OtakOnline.com - JakartaHarga avtur naik dan kembali memberi tekanan besar kepada industri penerbangan nasional. Kondisi tersebut membuat maskapai meminta pemerintah menyesuaikan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar agar beban operasional tidak semakin berat.

Harga avtur naik membuat biaya operasional maskapai meningkat dan memicu potensi kenaikan harga tiket pesawat.

Kenaikan harga avtur terjadi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Situasi ini membuat biaya operasional maskapai meningkat karena banyak kebutuhan penerbangan masih dibayar menggunakan mata uang dolar.

Sementara itu, Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menilai kebijakan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar perlu dibuat lebih fleksibel. Dengan demikian, industri penerbangan dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan harga energi.

Harga Avtur Naik, Maskapai Minta Fuel Surcharge Fleksibel

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, mengatakan harga avtur naik secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Karena itu, pihaknya meminta pemerintah menyesuaikan fuel surcharge setiap bulan mengikuti perubahan harga avtur yang diumumkan Pertamina.

Menurutnya, mekanisme tersebut lebih tepat dibandingkan aturan yang berlaku saat ini. Kebijakan penyesuaian setiap 60 hari dinilai kurang mampu mengikuti pergerakan harga bahan bakar yang berubah cukup cepat.

Apabila harga avtur meningkat, fuel surcharge sebaiknya ikut naik. Sebaliknya, jika harga avtur turun, biaya tambahan tersebut juga perlu diturunkan agar masyarakat memperoleh manfaat secara langsung.

Selain itu, sistem yang lebih fleksibel dinilai mampu memberikan kepastian bagi maskapai dalam mengelola biaya operasional.

Kenaikan Harga Avtur dan Dolar Tambah Beban Operasional

INACA mengungkapkan harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta pada periode 1 hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp27.358 per liter.

Angka tersebut meningkat sekitar 16 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi salah satu beban terbesar yang harus ditanggung maskapai.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga terus melemah. Padahal, sebagian besar biaya operasional penerbangan, termasuk perawatan pesawat, sewa, hingga pembelian suku cadang, menggunakan mata uang dolar.

Akibatnya, maskapai harus menghadapi tekanan ganda. Selain biaya bahan bakar meningkat, pengeluaran akibat kurs juga ikut bertambah.

Menurut INACA, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan keuangan perusahaan penerbangan apabila berlangsung dalam waktu lama.

Konflik Global Berpengaruh pada Industri Penerbangan

INACA menilai konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu penyebab naiknya harga energi dunia.

Dampaknya kemudian merembet ke harga avtur yang digunakan industri penerbangan. Akibatnya, biaya operasional maskapai nasional maupun internasional ikut melonjak.

Selain itu, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi konektivitas penerbangan nasional apabila tidak segera diantisipasi.

Maskapai berharap pemerintah dapat mengambil langkah cepat agar sektor transportasi udara tetap berjalan dengan baik.

Meskipun begitu, pelaku industri tetap berupaya menjaga layanan kepada masyarakat agar aktivitas penerbangan tidak terganggu secara signifikan.

Tiket Pesawat Berpotensi Mengalami Penyesuaian

Jika harga avtur naik terus berlanjut, maskapai memperkirakan harga tiket pesawat juga berpotensi mengalami penyesuaian.

Sebelumnya, pemerintah telah menaikkan fuel surcharge sekitar 38 persen untuk pesawat jet maupun baling-baling pada awal April 2026.

Karena itu, apabila biaya bahan bakar kembali meningkat, penyesuaian tarif menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.

Namun, maskapai berharap kebijakan tersebut dilakukan secara terukur agar tetap menjaga keseimbangan antara keberlangsungan usaha dan kemampuan masyarakat membeli tiket pesawat.

Selain itu, INACA juga meminta pemerintah kembali membahas revisi Tarif Batas Atas (TBA) penerbangan domestik kelas ekonomi.

Menurut organisasi tersebut, revisi tarif perlu mengikuti perkembangan harga avtur dan pergerakan kurs dolar sehingga kebijakan menjadi lebih relevan dengan kondisi pasar.

INACA Dorong Dukungan Pemerintah

Selain meminta penyesuaian fuel surcharge, INACA juga mengusulkan beberapa langkah untuk membantu industri penerbangan.

Beberapa usulan tersebut meliputi:

  • Penyesuaian fuel surcharge setiap bulan.

  • Revisi Tarif Batas Atas secara fleksibel.

  • Peningkatan koordinasi lintas kementerian.

  • Percepatan kebijakan bea masuk nol persen untuk suku cadang pesawat.

  • Dukungan kebijakan agar biaya operasional maskapai tetap terkendali.

Menurut INACA, langkah-langkah tersebut dapat membantu menjaga keberlangsungan industri penerbangan nasional.

Di sisi lain, kebijakan tersebut juga diharapkan mampu mempertahankan konektivitas antardaerah yang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi.

Apabila pemerintah dan pelaku usaha dapat bekerja sama, dampak dari harga avtur naik diyakini dapat ditekan. Dengan begitu, industri penerbangan tetap mampu melayani masyarakat sekaligus menjaga stabilitas sektor transportasi udara di Indonesia.

0 Komentar Untuk "Harga Avtur Naik, Tiket Pesawat Berpotensi Lebih Mahal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel