Indonesia Bisa Loncat ke 6G, Adopsi 5G Masih Rendah
OtakOnline.com - Jakarta - Indonesia Bisa Loncat ke 6G menjadi wacana yang semakin menguat seiring rendahnya adopsi jaringan 5G di dalam negeri. Hingga kini, penetrasi layanan 5G nasional masih berada di bawah 10 persen meski telah tersedia secara komersial sejak pertengahan 2021.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menyiapkan langkah yang lebih strategis. Alih-alih hanya mengejar ketertinggalan 5G, Indonesia dapat mempersiapkan fondasi agar siap menyambut teknologi 6G ketika mulai diterapkan secara global.
Pandangan itu disampaikan Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno. Menurutnya, kesiapan spektrum, regulasi, dan ekosistem digital jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar angka adopsi teknologi saat ini.
Indonesia Bisa Loncat ke 6G Jika Persiapan Dimulai Sekarang
Sarwoto menyatakan Indonesia tidak perlu terpaku mengejar penetrasi 5G apabila teknologi 6G nantinya menawarkan manfaat ekonomi yang lebih besar. Menurutnya, keputusan tersebut tetap bergantung pada kebutuhan pasar dan nilai bisnis yang dihasilkan.
Ia mencontohkan sejumlah negara telah mencatat penetrasi layanan 5G di atas 70 persen. Sementara itu, Indonesia masih berada di bawah 10 persen sehingga pengembangan jaringan generasi kelima belum berlangsung secara optimal.
Karena itu, pembahasan mengenai teknologi 6G dinilai harus dimulai lebih awal. Persiapan sejak dini akan membuat Indonesia tidak kembali tertinggal ketika teknologi baru mulai diterapkan secara luas.
Sarwoto mengingatkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, Indonesia berisiko kembali terlambat. Saat negara lain sudah siap mengimplementasikan teknologi baru, Indonesia bisa saja masih berada pada tahap persiapan awal.
Spektrum Frekuensi Menjadi Fondasi Pengembangan
Menurut Mastel, persiapan menuju 6G bukan berarti menghentikan pembangunan jaringan 5G. Sebaliknya, pemerintah perlu menyiapkan fondasi berupa spektrum frekuensi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai generasi teknologi.
Sarwoto mengibaratkan spektrum sebagai jalan raya. Jika jalur tersebut telah tersedia, teknologi apa pun dapat memanfaatkannya. Baik 5G maupun 6G nantinya dapat berjalan di atas infrastruktur spektrum yang sama sesuai kebutuhan.
Selain itu, perencanaan spektrum sejak sekarang juga memberikan kepastian bagi pelaku industri. Operator telekomunikasi dapat menyusun strategi investasi dengan lebih terarah ketika regulasi sudah jelas.
Di sisi lain, harmonisasi dengan standar internasional juga menjadi bagian penting. Langkah tersebut akan mempermudah integrasi perangkat dan mempercepat implementasi teknologi generasi berikutnya.
Operator Masih Menghitung Nilai Ekonomi 5G
Meski layanan 5G telah tersedia, ekspansi jaringan masih berjalan bertahap. Operator seluler tetap mempertimbangkan aspek bisnis sebelum menggelontorkan investasi dalam jumlah besar.
Menurut Sarwoto, jumlah pengguna ponsel yang sudah mendukung 5G masih relatif terbatas. Karena itu, investasi besar untuk memperluas jaringan belum sepenuhnya memberikan keuntungan yang memadai.
Selain perangkat, pemanfaatan 5G di sektor industri juga belum berkembang luas. Banyak perusahaan masih belum memiliki kebutuhan yang benar-benar memerlukan kecepatan dan latensi rendah yang ditawarkan teknologi tersebut.
Meskipun begitu, kondisi ini bukan berarti perkembangan digital berhenti. Sebaliknya, pemerintah dan industri memiliki waktu untuk menyiapkan ekosistem yang lebih matang sebelum memasuki era 6G.
Langkah yang Perlu Dipersiapkan Indonesia
Agar tidak kembali tertinggal, Mastel mendorong berbagai pihak mulai mempersiapkan fondasi menuju 6G. Persiapan tersebut mencakup beberapa aspek penting, antara lain:
- Menyusun kebijakan spektrum frekuensi secara matang.
- Menyesuaikan standar dengan perkembangan internasional.
- Mendorong kesiapan perangkat yang mendukung teknologi baru.
- Mengembangkan ekosistem digital yang lebih kuat.
- Meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, operator, industri, dan akademisi.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat dan dunia usaha juga menjadi faktor penting. Adopsi teknologi baru akan lebih cepat apabila manfaatnya dapat dirasakan secara nyata.
Ke depan, keputusan apakah Indonesia akan memperluas 5G secara signifikan atau langsung mempercepat transisi menuju 6G tetap bergantung pada perkembangan pasar. Namun, satu hal yang dianggap mendesak adalah memulai seluruh persiapan dari sekarang.
Dengan perencanaan yang matang, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan teknologi generasi berikutnya secara lebih efektif. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing nasional sekaligus mempercepat transformasi digital di berbagai sektor ekonomi.

0 Komentar Untuk "Indonesia Bisa Loncat ke 6G, Adopsi 5G Masih Rendah"
Posting Komentar