Indosat Divestasi Fiber Optik Rp11,71 Triliun, Tetap Pegang Kendali Strategis

OtakOnline.com - Indosat divestasi fiber optik menjadi salah satu langkah strategis terbesar yang dilakukan perusahaan telekomunikasi pada pertengahan 2026. PT Indosat Tbk (ISAT) resmi menyelesaikan transaksi pelepasan mayoritas kepemilikan saham di PT Infra Fiber Teknologi (IFT) dengan nilai mencapai Rp11,71 triliun.

Indosat Divestasi Fiber Optik Rp11,71 Triliun, Tetap Pegang Kendali Strategis

Transaksi tersebut efektif berlaku secara hukum pada 30 Juni 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan nilai aset infrastruktur digital tanpa sepenuhnya meninggalkan bisnis serat optik yang dinilai memiliki prospek jangka panjang.

Selain memperoleh dana segar, Indosat juga tetap mempertahankan kepemilikan efektif di IFT melalui struktur kepemilikan baru. Dengan demikian, perusahaan masih memiliki posisi strategis dalam pengembangan jaringan fiber optik di Indonesia.

Indosat Divestasi Fiber Optik Bernilai Rp11,71 Triliun

Dalam transaksi tersebut, Indosat bersama anak usahanya PT Aplikanusa Lintasarta menjual sebanyak 11.707.828 saham atau sekitar 84,9 persen dari seluruh modal ditempatkan dan disetor PT Infra Fiber Teknologi kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT).

Nilai transaksi mencapai Rp11,71 triliun. Penyelesaian transaksi ini sekaligus menandai perubahan struktur kepemilikan perusahaan penyedia infrastruktur serat optik tersebut.

Selain penjualan saham, kedua perusahaan juga melakukan transaksi inbreng atau penyertaan saham sebanyak 2.083.223 saham yang mewakili 15,1 persen kepemilikan di IFT.

Sebagai kompensasi atas transaksi tersebut, Indosat memperoleh 1.991.439 saham NFT atau setara 49,1 persen kepemilikan perusahaan. Sementara itu, PT Aplikanusa Lintasarta menerima 32.132 saham atau sekitar 0,8 persen.

Langkah tersebut membuat NFT resmi menjadi pemegang saham mayoritas di PT Infra Fiber Teknologi setelah transaksi dinyatakan efektif.

Struktur Kepemilikan Baru Tetap Menguntungkan Indosat

Meski melakukan divestasi mayoritas saham, Indosat tidak sepenuhnya keluar dari bisnis infrastruktur fiber optik.

Perusahaan masih mempertahankan satu saham langsung di PT Infra Fiber Teknologi. Selain itu, melalui kepemilikan di Nusantara Fiber Teknologi, Indosat tetap memiliki kepemilikan efektif sebesar sekitar 49,68 persen di IFT.

Karena itu, perusahaan masih memiliki eksposur yang kuat terhadap perkembangan bisnis jaringan serat optik nasional.

Transaksi ini juga diikuti dengan penandatanganan Perjanjian Pemegang Saham yang melibatkan Indosat, Lintasarta, Nusantara Fiber Teknologi, dan PT Ainfrastruktur Indonesia Raya.

Perjanjian tersebut sebenarnya telah ditandatangani pada 6 Mei 2026. Namun, pelaksanaannya baru berlaku setelah seluruh proses jual beli saham berhasil diselesaikan.

Di sisi lain, transaksi ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Investasi yang pertama kali diteken pada 23 Desember 2025 dan kemudian diamendemen pada 6 Mei 2026.

Kolaborasi Perkuat Infrastruktur Digital Indonesia

Sebelumnya, Indosat bersama Arsari Group dan Northstar telah membentuk perusahaan patungan yang berfokus pada pengembangan jaringan fiber optik nasional.

Melalui skema tersebut, aset serat optik Indosat dialihkan ke perusahaan baru dengan valuasi sekitar Rp14,6 triliun.

Sebagai hasil monetisasi aset tersebut, Indosat memperoleh kepemilikan sekitar 45 persen saham pada perusahaan patungan. Arsari Group juga menguasai 45 persen saham, sedangkan sisanya dimiliki mitra lain dalam konsorsium.

Strategi tersebut dinilai mampu memperkuat pendanaan sekaligus mempercepat pembangunan infrastruktur digital di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu, model kemitraan memungkinkan perusahaan memperluas jaringan fiber optik tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan investasi secara mandiri.

Fiber Optik Dinilai Menjadi Fondasi Ekonomi Digital

President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menilai bahwa infrastruktur fiber optik merupakan komponen paling penting dalam transformasi digital Indonesia.

Menurutnya, berbagai hasil riset internasional menunjukkan bahwa jaringan fiber menjadi fondasi utama bagi pembangunan ekonomi digital.

Ia menyebut berbagai kajian dari lembaga internasional hingga riset internal perusahaan sama-sama menunjukkan pentingnya investasi pada jaringan fiber.

Karena itu, kemitraan strategis yang dibangun bersama Arsari Group diharapkan mampu mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional.

Selain meningkatkan kualitas konektivitas, pengembangan jaringan fiber optik juga diproyeksikan mampu mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga delapan persen dalam beberapa tahun mendatang.

Meskipun Indosat telah melepas mayoritas kepemilikan langsung di PT Infra Fiber Teknologi, perusahaan tetap mempertahankan posisi strategis melalui struktur kepemilikan baru. Dengan strategi tersebut, Indosat memperoleh tambahan fleksibilitas pendanaan sekaligus tetap berperan dalam pengembangan ekosistem infrastruktur digital Indonesia. Langkah Indosat divestasi fiber optik pun menjadi salah satu strategi korporasi yang dinilai mampu menyeimbangkan optimalisasi aset dengan pertumbuhan bisnis jangka panjang.

0 Komentar Untuk "Indosat Divestasi Fiber Optik Rp11,71 Triliun, Tetap Pegang Kendali Strategis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel