Ekonom Prediksi Rupiah Sulit Menguat di Bawah Kepemimpinan Destry

Otakonline.com - Jakarta, Komisi XI DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Destry akan menggantikan Perry Warjiyo yang mundur dari posisi tersebut sejak Juli lalu.

Ekonom Prediksi Rupiah Sulit Menguat di Bawah Kepemimpinan Destry

Destry kini tinggal menunggu pelantikan resmi untuk memimpin bank sentral. Masa kepemimpinannya akan berlangsung di tengah tantangan besar pada sektor moneter dan nilai tukar.

Namun, Ekonom Senior Didik J Rachbini menilai rupiah sulit menguat secara signifikan dalam lima tahun mendatang. Menurutnya, pergantian pemimpin BI tidak otomatis mengubah struktur ekonomi yang selama ini memengaruhi nilai tukar.

Rupiah Sulit Menguat dalam Lima Tahun

Didik menilai tugas memperkuat rupiah tidak akan mudah bagi kepemimpinan baru BI. Ia memperkirakan kondisi nilai tukar masih menghadapi tekanan dalam lima tahun ke depan.

Menurut Didik, berbagai kendala berasal dari faktor internal dan eksternal BI. Karena itu, perubahan kepemimpinan tidak cukup untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Kepemimpinan baru memang tidak mungkin bisa mengubah faktor-faktor yang menjadi kendala selama ini,” ujar Didik dalam keterangannya, Minggu (30/8/2026).

Ia memperkirakan sistem moneter akan berjalan dengan pola yang relatif sama. Dengan demikian, rupiah juga berpotensi tetap lemah jika struktur ekonomi tidak mengalami perubahan.

Didik menilai pasar domestik yang besar belum cukup untuk membuat nilai tukar menjadi kuat. Indonesia memang memiliki skala ekonomi besar dan pasar yang luas.

Namun, kekuatan tersebut belum diikuti sektor luar negeri yang kuat. Kondisi itu membuat rupiah tetap rentan terhadap berbagai tekanan eksternal.

Suku Bunga Bukan Solusi Tunggal

Menurut Didik, BI masih dapat menjaga nilai tukar melalui kebijakan moneter. Salah satu instrumen yang bisa digunakan adalah suku bunga.

Ketika rupiah melemah secara drastis, BI dapat menaikkan suku bunga. Kebijakan tersebut berpotensi menarik modal asing karena investor memperoleh imbal hasil lebih tinggi.

Namun, kebijakan suku bunga tinggi juga memiliki konsekuensi. Biaya transaksi yang tinggi dapat memberi tekanan terhadap dunia usaha dan investasi domestik.

Selain itu, suku bunga tinggi dapat memengaruhi kredit perumahan atau KPR. Investasi dalam negeri juga dapat menghadapi tekanan ketika biaya pembiayaan meningkat.

Di sisi lain, BI memiliki pilihan untuk menurunkan suku bunga guna mendorong investasi. Akan tetapi, langkah tersebut juga memiliki risiko terhadap nilai tukar.

Jika penurunan suku bunga berlangsung cepat, investor bisa beralih ke aset dalam mata uang dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah dapat kembali muncul.

Didik menilai kebijakan konservatif yang hanya mengandalkan suku bunga tidak cukup. Faktor hukum, korupsi, daya saing, investasi, dan sektor luar negeri juga berpengaruh.

Struktur Ekonomi Jadi Tantangan

Didik melihat persoalan rupiah berkaitan erat dengan struktur ekonomi Indonesia. Pasar domestik yang besar memang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi.

Namun, pertumbuhan tersebut tidak selalu menghasilkan tambahan devisa. Konsumsi masyarakat terhadap produk dalam negeri terutama menciptakan perputaran ekonomi berbasis rupiah.

Kegiatan tersebut tetap memberi manfaat bagi perekonomian. Misalnya, konsumsi dapat menciptakan lapangan kerja dan mendukung keuntungan perusahaan.

Meski begitu, kondisi tersebut belum cukup untuk memperkuat pasokan devisa. Karena itu, rupiah tetap rentan ketika kebutuhan dolar meningkat.

Didik juga menyoroti perubahan orientasi bisnis pengusaha nasional. Pada dekade 1980-an dan 1990-an, orientasi keluar atau outward looking sempat menjadi bagian penting.

Sementara itu, orientasi bisnis kemudian lebih banyak mengarah ke pasar domestik. Pengusaha nasional dapat memperoleh keuntungan dari pasar dalam negeri yang sangat besar.

Pola tersebut memang dapat mendukung aktivitas ekonomi domestik. Namun, pola itu tidak otomatis memperkuat rupiah karena tidak menghasilkan devisa dalam jumlah besar.

Terlebih lagi, proses produksi dalam negeri masih membutuhkan barang impor. Ketika kebutuhan impor meningkat, permintaan terhadap dolar juga ikut bertambah.

Indonesia Perlu Memperkuat Ekspor

Didik menilai Indonesia perlu mengubah orientasi ekonominya menjadi lebih berorientasi keluar. Artinya, aktivitas bisnis perlu semakin banyak menghasilkan pendapatan dari pasar internasional.

Ekonomi berbasis ekspor dapat mendatangkan devisa dalam jumlah lebih besar. Selanjutnya, tambahan devisa dapat membantu memperkuat fondasi eksternal nilai tukar.

Menurut Didik, Indonesia membutuhkan kebijakan ekonomi yang mampu meningkatkan ekspor. Dengan begitu, pasokan dolar dapat bertambah dan tidak hanya bergantung pada aktivitas domestik.

Kondisi cadangan devisa juga menjadi perhatian. Pada akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar US$145,3 miliar.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Singapura yang memiliki cadangan sekitar US$426,2 miliar. Thailand juga memiliki sekitar US$279,2 miliar.

Sementara itu, Malaysia memiliki cadangan devisa sekitar US$132,6 miliar. Jumlah tersebut berasal dari negara dengan jumlah penduduk yang lebih kecil dibandingkan Indonesia.

Didik menilai cadangan devisa Indonesia belum cukup besar untuk menjadi penyangga eksternal yang kuat. Karena itu, penguatan sektor luar negeri menjadi semakin penting.

Komoditas Belum Cukup Menopang Rupiah

Indonesia memiliki sejumlah komoditas yang mampu menghasilkan devisa. Batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel menjadi bagian dari sumber penerimaan tersebut.

Namun, ekspor komoditas mentah atau setengah jadi memiliki risiko. Penerimaannya sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas di pasar global.

Ketika harga komoditas meningkat, penerimaan devisa dapat ikut terdorong. Sebaliknya, penurunan harga dapat menekan penerimaan dan cadangan devisa.

Indonesia juga bukan penentu harga global untuk komoditas tersebut. Karena itu, perubahan harga internasional dapat langsung memengaruhi kinerja ekspor.

Pada saat yang sama, Indonesia tetap membutuhkan dolar untuk membayar impor. Kebutuhan tersebut mencakup barang modal dan bahan baku untuk aktivitas ekonomi domestik.

Akibatnya, penurunan penerimaan ekspor dapat memperbesar tekanan terhadap nilai tukar. Kondisi ini membuat rupiah lebih rentan ketika pasokan devisa melemah.

Investasi Asing Juga Menjadi Faktor

Investasi asing menjadi salah satu sumber dana yang dapat membawa devisa ke Indonesia. Namun, investor memiliki banyak pilihan negara berkembang untuk menempatkan modalnya.

Karena itu, iklim investasi menjadi faktor penting. Kepastian hukum, tingkat korupsi, serta biaya transaksi dapat memengaruhi keputusan investor.

Jika negara lain menawarkan lingkungan bisnis yang lebih baik, investor dapat mengalihkan dana mereka. Akibatnya, arus modal masuk ke Indonesia bisa menghadapi tekanan.

Didik menilai Indonesia membutuhkan modal asing untuk memperkuat aliran devisa. Namun, kepercayaan investor perlu mendapat perhatian agar dana tersebut tetap masuk.

Dengan demikian, penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan BI. Pemerintah dan sektor ekonomi lain juga memiliki peran dalam memperkuat fondasi ekonomi luar negeri.

Tantangan Destry sebagai Gubernur BI

Destry akan memimpin BI dalam situasi yang menghadirkan berbagai tantangan. Nilai tukar, suku bunga, investasi, serta kondisi sektor luar negeri saling berkaitan.

Menurut Didik, perubahan kepemimpinan BI hanya menjadi bagian dari siklus biasa. Pergantian tersebut tidak serta-merta mengubah struktur ekonomi Indonesia.

Karena itu, ruang BI untuk memperkuat rupiah memiliki batas tertentu. Kebijakan moneter tetap penting, tetapi hasilnya sangat dipengaruhi kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Pada akhirnya, rupiah membutuhkan fondasi eksternal yang lebih kuat. Ekspor, investasi asing, pariwisata, dan arus dana dari luar negeri menjadi bagian penting dalam membangun pasokan devisa.

Jika orientasi ekonomi tetap dominan di pasar domestik, tekanan terhadap rupiah berpotensi terus muncul. Sebaliknya, penguatan sektor luar negeri dapat membantu menciptakan fondasi nilai tukar yang lebih kokoh.

Didik pun memperkirakan BI akan menghadapi kesulitan memperkuat rupiah selama lima tahun mendatang. Menurutnya, tantangan tersebut bersifat struktural dan tidak dapat diselesaikan BI seorang diri.

Kesimpulan

Rupiah sulit menguat secara signifikan jika perubahan kepemimpinan BI tidak disertai perbaikan struktur ekonomi. Kebijakan suku bunga saja dinilai belum cukup untuk mengatasi tekanan nilai tukar.

Selain itu, Indonesia perlu memperkuat sektor luar negeri. Peningkatan ekspor dan arus devisa menjadi faktor penting untuk membangun fondasi rupiah yang lebih kuat.

Dengan demikian, tantangan Destry sebagai Gubernur BI tidak hanya berada pada kebijakan moneter. Kondisi investasi, produksi, ekspor, dan struktur ekonomi juga akan menentukan arah nilai tukar dalam lima tahun ke depan.

0 Komentar Untuk "Ekonom Prediksi Rupiah Sulit Menguat di Bawah Kepemimpinan Destry"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel