
Otakonline.com - Jakarta, sejumlah aktivitas orang ber-IQ tinggi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memberi stimulasi bagi pikiran. Memecahkan teka-teki, melakukan percakapan bermakna, hingga membaca literatur yang menantang termasuk kegiatan yang kerap mereka nikmati.
Setiap orang memiliki cara berbeda untuk mengisi waktu luang. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat menarik bagi orang dengan kecerdasan tinggi karena menghadirkan tantangan, pengetahuan, atau kesempatan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang baru.
Dikutip dari laman Your Tango, Medium, dan Economic Times, berikut tujuh aktivitas yang sering dikaitkan dengan orang yang sangat cerdas atau memiliki IQ tinggi.
Memecahkan teka-teki dan masalah kompleks
Permainan catur, puzzle, teka-teki silang, serta tantangan tertentu dapat memberi kepuasan bagi orang yang senang memecahkan masalah. Mereka biasanya tertarik menemukan pola, menguji strategi, dan mencari cara yang lebih optimal untuk menyelesaikan persoalan.
Marcel Danesi, PhD, profesor semiotika dan antropologi di Victoria College, University of Toronto, menjelaskan bahwa teka-teki dapat merangsang bagian tertentu dari otak. Teka-teki bahasa cenderung melibatkan area bahasa, sedangkan permainan yang menuntut penempatan simbol dapat merangsang pemrosesan logika.
Selain itu, permainan seperti TTS juga sering dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan otak. Aktivitas tersebut dapat membantu melatih daya ingat dan fungsi kognitif tertentu.
Menjalin percakapan yang bermakna
Aktivitas orang ber-IQ tinggi tidak selalu berlangsung sendirian. Sebagian dari mereka justru menikmati percakapan mendalam bersama orang-orang terdekat. Topiknya bisa mencakup gagasan, pengalaman, atau persoalan yang menggugah pikiran.
Nicholas Epley, PhD, profesor ilmu perilaku di University of Chicago Booth School of Business, mengatakan bahwa hubungan yang bermakna cenderung membuat seseorang lebih bahagia. Menurutnya, percakapan yang berisi hal penting juga berpeluang menghasilkan tanggapan yang sama bermaknanya.
Mempelajari bahasa dan mengembangkan kreativitas
Mempelajari bahasa baru dapat menjadi kegiatan yang menarik karena melibatkan tata bahasa, sintaksis, dan strategi berpikir. Proses tersebut menantang pikiran sekaligus melatih seseorang memahami cara komunikasi yang berbeda.
Sementara itu, kegiatan kreatif seperti melukis, memahat, membuat keramik, bermusik, dan fotografi juga dapat menarik bagi orang dengan kecerdasan tinggi. Mereka tidak hanya menikmati hasilnya, tetapi juga proses menghubungkan berbagai gagasan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Girija Kaimal, profesor di Drexel University dan peneliti terapi seni, menyebut aktivitas yang melibatkan pikiran kreatif baik bagi seseorang. Menurutnya, kreativitas membantu orang menghubungkan hal-hal yang sebelumnya tidak berkaitan.
Mengoleksi benda bernilai sejarah
Mengoleksi buku langka, karya seni, barang antik, atau benda tertentu dapat membuka kesempatan untuk mempelajari sejarah dan budaya. Hobi ini juga menggabungkan ketertarikan pada pengetahuan dengan apresiasi terhadap nilai estetika.
Bagi sebagian kolektor, benda lama memiliki cerita dan emosi tersendiri. Economic Times mencontohkan radio tua yang mengingatkan seseorang pada kakek dan nenek, atau kartu pos tulisan tangan yang menghadirkan perasaan terhubung dengan orang dari masa lalu.
Menjelajah budaya dan membaca literatur menantang
Bepergian memberi kesempatan untuk mengenal seni, sejarah, arsitektur, bahasa, dan tradisi dari sudut pandang berbeda. Orang yang menyukai aktivitas ini tidak selalu mengejar tempat wisata populer. Mereka juga dapat menikmati interaksi dengan kehidupan masyarakat lokal.
Dengan mengenal kebiasaan masyarakat setempat, seseorang dapat memperluas wawasan dan memahami perspektif yang tidak selalu muncul dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, perjalanan menjadi kegiatan rekreatif sekaligus sarana belajar.
Selain bepergian, membaca literatur yang menantang dapat menjaga rasa ingin tahu. Orang yang sangat cerdas sering membaca untuk memahami berbagai cara berpikir, bukan sekadar menuntaskan halaman.
Sebuah studi pada 2016 dalam Social Science & Medicine melibatkan peserta berusia di atas 50 tahun. Studi itu menemukan bahwa membaca buku berkaitan dengan penurunan angka kematian hingga 20 persen selama masa tindak lanjut dibandingkan dengan tidak membaca buku.
Pembaca juga dapat berpindah dari satu topik ke topik lain, seperti filsafat dan pemrograman. Dengan demikian, waktu luang dapat menjadi kesempatan untuk terus belajar tanpa kehilangan unsur hiburan.