Gangguan Sinyal GNSS Menguji Ketahanan Dunia Digital

Editor Jaya Purnama
Waktu baca Menghitung...
Diterbitkan

Gangguan Sinyal GNSS Menguji Ketahanan Dunia Digital

Otakonline.com - Jakarta, gangguan sinyal GNSS kini menjadi perhatian serius karena sistem navigasi satelit tidak hanya menentukan lokasi, tetapi juga menyediakan waktu presisi bagi berbagai infrastruktur digital.

Jaringan listrik, telekomunikasi, pasar saham, layanan transportasi, dan perangkat industri bergantung pada sinkronisasi yang diberikan Global Navigation Satellite Systems (GNSS). Ketergantungan ini sekaligus menciptakan titik lemah baru.

Para insinyur, fisikawan, dan pejabat menguji risiko tersebut melalui Jammertest, kegiatan tahunan yang digelar otoritas Norwegia di Pulau Andøya, sekitar 300 kilometer sebelah utara Lingkar Arktik.

Jammertest Menguji Gangguan Sinyal GNSS

Jammertest menggunakan pendekatan terbuka seperti peretasan etis. Para peserta menguji penerima GNSS komersial dengan gangguan buatan, lalu membagikan hasil pengujian kepada peserta pemerintah dan perusahaan.

Harald Hauglin, kepala insinyur metrologi waktu dan frekuensi di Norwegian Metrology Service, menjadi salah satu tokoh penting dalam pengujian tersebut. Ia dan timnya mengirimkan informasi palsu kepada penerima di pesawat, mobil, serta peralatan industri.

Dalam salah satu uji penerbangan, sinyal GNSS yang dimanipulasi membuat pelacak menunjukkan pola penerbangan yang tidak sesuai kenyataan. Helikopter terlihat bergerak dalam putaran yang berulang, sementara pesawat uji menampilkan pola tajam di udara, meskipun penerbangan sebenarnya berlangsung dalam lingkaran lebar.

Jamming dan spoofing membawa risiko berbeda

Gangguan GNSS memiliki dua bentuk utama. Jamming membanjiri sinyal asli hingga layanan tidak dapat digunakan. Sementara itu, spoofing membajak gelombang radio dengan menawarkan lokasi dan waktu palsu kepada penerima.

Jamming berkepanjangan dapat menguras cadangan sistem waktu. Jika cadangan tersebut habis, sinkronisasi jaringan digital mulai terganggu dan menimbulkan masalah berantai.

Spoofing yang berlangsung perlahan dapat menjadi ancaman lebih sulit dideteksi. Sistem mungkin menerima informasi palsu tanpa menyadari adanya serangan. Akibatnya, mekanisme cadangan tidak segera aktif.

Dalam pengujian lain, tim Hauglin meningkatkan kekuatan sinyal spoofing secara bertahap selama lebih dari 40 menit. Penanda lokasi di layar perlahan bergeser dari posisi sebenarnya menuju Laut Norwegia.

Infrastruktur membutuhkan sistem cadangan

Daya tahan jaringan tanpa GNSS bergantung pada investasi pada infrastruktur alternatif. Sistem tersebut dapat mencakup jam berbasis darat dan kabel serat optik yang mentransfer waktu dengan tingkat presisi tinggi.

Hauglin juga menunjukkan pergeseran waktu pada jam yang menerima sinyal palsu. Tim membandingkannya dengan waktu acuan yang dikirim melalui kabel serat optik dari penerima GNSS di balik gunung, lokasi yang terlindung dari gangguan.

Sejumlah sistem alternatif telah dikembangkan. Salah satunya White Rabbit, teknologi sinkronisasi presisi yang dikembangkan di CERN, Swiss. Sistem tersebut dapat mengirimkan waktu dengan ketelitian kurang dari satu nanodetik menggunakan kabel serat optik dan jam acuan atom.

Namun, tidak ada satu sistem yang mampu menggantikan seluruh fungsi GNSS. Dana Goward dari Resilient Timing and Navigation Foundation menilai kombinasi beberapa sistem menjadi pilihan yang diperlukan.

Gangguan sinyal GNSS meningkat sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina dan paling mudah terlihat dalam penerbangan. Kondisi ini mendorong Norwegia serta sejumlah negara lain menyiapkan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap gangguan navigasi dan waktu.

Keterbukaan Jammertest menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Pengujian ini tidak hanya mencari kelemahan perangkat, tetapi juga menunjukkan seberapa lama jaringan listrik, komunikasi seluler, dan sistem digital lainnya dapat bertahan ketika sumber waktu satelit terganggu.

Jaya Purnama
Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan