
Otakonline.com - Jakarta, kemampuan AI karyawan mulai menjadi pertimbangan dalam bonus, promosi, hingga keberlanjutan pekerjaan. Namun, kebijakan ini memunculkan kekhawatiran karena peningkatan produktivitas belum tentu diikuti kenaikan gaji atau pengurangan beban kerja.
Duncan Trevithick, pekerja pemasaran berusia 34 tahun di perusahaan data pelatihan AI yang berbasis di Spanyol, menyadari bahwa penggunaan AI dapat membantunya menyelesaikan lebih banyak tugas dengan lebih cepat. Kemampuan itu berpotensi mendukung bonus pada akhir tahun.
Meski begitu, Trevithick mempertanyakan keuntungan jangka panjang bagi pekerja. Ia menilai, jika AI mampu mengambil alih pekerjaan selama dua hari setiap pekan, hasil tersebut belum tentu membuatnya memperoleh waktu libur tambahan atau kenaikan gaji yang sepadan.
Kemampuan AI karyawan menjadi ukuran baru di tempat kerja
Sejumlah perusahaan mulai memakai kemampuan menggunakan AI sebagai indikator kinerja. Accenture, misalnya, menyatakan bahwa karyawan yang ingin mendapatkan promosi harus mampu menjalankan cara kerja perusahaan yang kini mengandalkan AI.
Disney, Meta, JP Morgan, dan KPMG juga dilaporkan memperkenalkan “AI leaderboards” untuk melacak serta mengurutkan penggunaan berbagai model bahasa besar dan platform AI oleh karyawan. Sementara itu, Coinbase telah memecat sejumlah insinyur yang tidak menyelesaikan pelatihan AI sesuai permintaan CEO Brian Armstrong.
Langkah tersebut muncul ketika perusahaan berusaha mendapatkan hasil dari investasi AI. Laporan McKinsey menyebutkan, 94 persen perusahaan belum melihat nilai signifikan dari penerapan teknologi tersebut.
Tekanan untuk menguasai AI juga meningkat karena kondisi pasar kerja. Di Inggris, jumlah lowongan kerja mencapai titik terendah dalam lima tahun. Meski demikian, survei Gi Group terhadap 1.881 pencari kerja di Inggris pada Juli menunjukkan 75 persen responden tidak akan mengurungkan niat melamar ke perusahaan yang memasukkan kemampuan AI dalam penilaian kinerja.
Karyawan khawatir produktivitas justru menjadi ancaman
Seorang eksekutif senior di Amerika Serikat, yang menggunakan nama samaran Pamela, mengatakan perusahaan tempatnya bekerja tidak memiliki kewajiban resmi untuk memakai AI. Namun, penggunaan teknologi itu tetap terlihat memengaruhi siapa yang memperoleh penghargaan dan siapa yang tertinggal.
Menurut Pamela, kemampuan AI kini dapat lebih menentukan dibandingkan pengalaman kerja. Kondisi itu berpotensi menciptakan tenaga kerja dua tingkat, karena karyawan dengan masa kerja dan jabatan sama bisa dinilai berbeda berdasarkan kemampuannya menggunakan AI.
Trevithick juga melihat risiko serupa. Menurutnya, peningkatan hasil kerja dapat berubah menjadi standar baru tanpa kompensasi yang setara. Dalam jangka panjang, pekerja bahkan bisa membantu perusahaan membuktikan bahwa sebagian tugasnya tidak lagi membutuhkan tenaga manusia.
Namun, tidak semua perusahaan mempertahankan kebijakan tersebut. CEO Duolingo Luis von Ahn mengatakan pada April bahwa penggunaan AI tidak lagi menjadi bagian dari penilaian kinerja. Perusahaan itu menilai karyawan seharusnya menggunakan AI ketika memang membantu pekerjaan, bukan sekadar untuk memenuhi target penggunaan.
Financial Times juga melaporkan pada Mei bahwa Amazon menghentikan papan peringkat internal yang melacak penggunaan AI. Karyawan disebut berusaha menaikkan peringkat dengan memberikan tugas yang sebenarnya tidak membutuhkan AI.
Aturan AI memunculkan pertanyaan tentang keadilan
Tina Chander, partner sekaligus pengacara ketenagakerjaan di Weightmans, mengatakan perusahaan secara hukum dapat mengubah ekspektasi kerja. Namun, perubahan itu tetap memunculkan pertanyaan tentang gaji dan keadilan.
Persoalannya adalah apakah pekerja harus menerima lebih banyak tugas hanya karena AI membuat mereka lebih efisien. Chander mendorong perusahaan untuk memiliki kebijakan, pelatihan, dan batasan penggunaan AI yang jelas agar tidak memicu perselisihan terkait kinerja, beban kerja, dan keamanan pekerjaan.
Konsultan sumber daya manusia Tina Rahman menilai perusahaan belum cukup transparan dalam menjelaskan alasan penerapan AI. Menurutnya, tujuan perusahaan biasanya berkaitan dengan penghematan waktu dan biaya, termasuk mengurangi ketergantungan pada outsourcing.
Kamila Miller, peneliti AI terapan sekaligus dosen di Henley Business School, memperingatkan bahwa menjadikan penggunaan AI sebagai indikator kinerja dapat mendorong perilaku semu. Karyawan mungkin mencatat interaksi dengan AI atau memasukkan pekerjaan yang tidak perlu ke chatbot demi mengejar target.
Dengan demikian, perusahaan berisiko hanya mengukur tingkat penggunaan teknologi, bukan kemampuan mengambil keputusan, proses belajar, atau kualitas hasil kerja. Di sisi lain, sebagian pekerja tetap berusaha meningkatkan kemampuan AI demi mempertahankan posisi dan manfaat pekerjaan mereka.
Trevithick memilih menyiapkan diri melalui sejumlah proyek sampingan. Ia menilai pekerja perlu bergerak menuju posisi yang memungkinkan mereka memiliki aset dan memanfaatkan AI, sehingga manfaat teknologi tidak hanya dinikmati perusahaan.