
Otakonline.com - Jakarta, pengemudi Grab di Vietnam menyerukan aksi boikot pada akhir pekan ini. Mereka memprotes perubahan struktur pembayaran yang dinilai menekan pendapatan bersih hingga sulit dipertahankan.
Para pengemudi mengajak rekan-rekan mereka menghentikan sementara penggunaan aplikasi pada Sabtu dan Minggu. Seruan itu disebarkan melalui media sosial, termasuk grup publik Vietnam Grab Driver Community di Facebook.
Sejumlah pengemudi membagikan tangkapan layar yang menunjukkan penurunan pendapatan setelah perubahan skema pembayaran Grab. Mereka juga meminta pengemudi lain tidak menerima pesanan selama akhir pekan sebagai bentuk protes.
Boikot pengemudi Grab Vietnam dipicu perubahan pembayaran
Perubahan struktur pembayaran Grab berlangsung pada Juli 2026. Berdasarkan laporan VTC News yang dikutip Reuters, potongan yang dikenakan kepada pengemudi kini dapat mencapai 50% dari nilai tarif perjalanan.
Besarnya potongan tersebut memicu kekhawatiran karena pengemudi harus menanggung sendiri berbagai biaya operasional. Beban itu mencakup bahan bakar, perawatan kendaraan, serta penyusutan kendaraan.
Salah satu pengguna Facebook menulis ajakan kepada pengemudi lain dalam grup yang memiliki sekitar 169.000 anggota. “Mari kita semua berdiri bersama, matikan aplikasi dan beristirahat untuk menuntut keadilan,” tulisnya.
Pendapatan bersih pengemudi ikut tertekan
Laporan tersebut menyebut penghasilan bersih pengemudi sepeda motor diperkirakan hanya sekitar 2.600 dong Vietnam atau sekitar US$0,10 per kilometer. Sementara itu, pengemudi mobil memperoleh pendapatan bersih sekitar 6.000 dong atau US$0,23 per kilometer.
Nilai tersebut belum memperhitungkan biaya operasional kendaraan. Karena itu, kenaikan harga bahan bakar, kebutuhan perawatan, dan penyusutan kendaraan berpotensi semakin mengurangi pendapatan yang diterima dari setiap perjalanan.
Kondisi ini menjadi perhatian pengemudi karena pendapatan bersih mereka sudah terpangkas setelah perubahan skema pembayaran. Aksi boikot diharapkan dapat menyampaikan keberatan terhadap besarnya potongan yang berlaku.
Grab belum memberikan tanggapan
Hingga laporan Reuters ditulis, Grab belum memberikan tanggapan mengenai seruan boikot tersebut. Perusahaan asal Singapura itu merupakan salah satu operator layanan transportasi daring terbesar di Vietnam.
Selain layanan transportasi, Grab juga menjalankan bisnis pengantaran makanan dan berbagai layanan digital lain di negara tersebut. Keberadaan perusahaan itu tetap dinilai penting oleh sebagian pengemudi karena menjadi sumber mata pencaharian mereka.
“Jika Grab keluar dari Vietnam, para pengemudi tidak akan memiliki apa-apa,” kata salah satu pengguna dalam grup Facebook tersebut. Pernyataan itu menunjukkan posisi sulit yang dihadapi pengemudi, antara memprotes potongan biaya dan tetap bergantung pada platform untuk memperoleh penghasilan.
Dengan demikian, aksi akhir pekan ini mencerminkan ketegangan antara kebutuhan pengemudi untuk mendapatkan pendapatan yang lebih layak dan ketergantungan mereka terhadap layanan transportasi daring. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada tanggapan Grab serta respons para pengemudi terhadap perubahan pembayaran tersebut.