IHSG Melemah 1,02%, Simak Saham Penggerak dan Berita Emiten

Editor Otak Online
Waktu baca Menghitung...
Diterbitkan

IHSG Melemah 1,02%, Simak Saham Penggerak dan Berita Emiten

Otakonline.com - Jakarta, IHSG kembali melemah pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/10). Indeks turun 1,02% ke level 6.009,50.

Tekanan pasar muncul di tengah aksi jual investor asing dan pelemahan mayoritas sektor. Sebanyak 9 dari 11 sektor berakhir di zona merah.

Di sisi lain, sejumlah saham masih mencatat penguatan. DSSA, CASA, dan VKTR menjadi beberapa saham yang bergerak naik saat IHSG mengalami tekanan.

IHSG Melemah dan Investor Asing Catat Net Sell

Perdagangan saham pada Kamis berlangsung dalam tekanan. IHSG turun 1,02% dan mengakhiri sesi di level 6.009,50.

Sementara itu, investor asing mencatat net sell Rp240,43 miliar di pasar reguler. Jika seluruh pasar dihitung, nilai net sell mencapai Rp241,86 miliar.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menghadapi aksi jual asing. Saham tersebut mencakup GOTO, BBCA, BBRI, AMMN, TLKM, ASII, BYAN, dan UNTR.

Namun, beberapa saham tetap mampu menguat. DSSA naik 4,67%, sedangkan CASA tumbuh 4,72%. Selain itu, VKTR menguat 4,43%.

Di sisi lain, GOTO turun 12,50%. BRMS juga terkoreksi 6,78%, sementara BBCA melemah 1,23%.

Mayoritas Sektor Melemah, Teknologi Tertekan

Tekanan juga terlihat pada sebagian besar sektor di BEI. Sebanyak 9 dari 11 sektor mengakhiri perdagangan dengan penurunan.

Sektor Technology mencatat pelemahan paling dalam. Sektor tersebut turun 3,93% pada perdagangan Kamis.

Sementara itu, sektor Energy masih mampu mencatat penguatan sebesar 0,31%. Pergerakan antarsektor tersebut menunjukkan tekanan pasar tidak terjadi secara merata.

Selain pergerakan saham dan sektor, pasar juga memperhatikan penyesuaian harga setelah penghapusan batas bawah Rp50. Dimulainya perdagangan short selling turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Di pasar global, bursa saham Amerika Serikat berakhir menguat tipis. Dow Jones naik 0,04% ke level 50.926.

Kemudian, S&P 500 bertambah 0,19% menjadi 7.666. Nasdaq juga naik 0,04% ke level 26.871.

Sementara itu, ETF EIDO turun 1,02%. MSCI Indonesia juga melemah 1,28%.

GEMS Targetkan Produksi Batu Bara 58 Juta Ton

Golden Energy Mines (GEMS) memasang target produksi sekaligus penjualan batu bara hingga 58 juta ton pada 2026.

Target tersebut melampaui realisasi produksi 2025 yang mencapai 54,95 juta ton. Pada 2024, GEMS mencatat produksi 50,70 juta ton.

Dengan demikian, produksi 2025 meningkat 8,38% dibandingkan tahun sebelumnya. GEMS menetapkan target 2026 ketika pemerintah berencana menjaga produksi batu bara nasional di bawah 700 juta ton.

Namun, GEMS menghadapi proyeksi perlambatan permintaan dari China dan India. Kedua negara tersebut menjadi pasar ekspor utama perusahaan.

Kondisi tersebut sejalan dengan peningkatan produksi batu bara domestik serta efisiensi energi di China dan India. Karena itu, perusahaan turut mencari pasar alternatif untuk memperluas penjualan.

Sepanjang 2025, pasar ekspor menyumbang sekitar 65% penjualan GEMS. China menyumbang 52%, India 6%, dan negara lainnya 7%. Sementara itu, pasar domestik menyumbang 35%.

Selain pasar utama tersebut, GEMS mengincar negara alternatif seperti Filipina. Sementara itu, harga batu bara pada 2026 diperkirakan relatif stabil.

BBRM Tambah Kapal AHTS untuk Bisnis Lepas Pantai

Pelayaran Nasional Bina Buana Raya (BBRM) telah menyelesaikan pembelian kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) MP Maverick jenis 80T BP.

Kapal tersebut memiliki kapasitas 6.000 BHP. BBRM membeli kapal dari Great Union China Limited dengan nilai transaksi USD12,10 juta.

BBRM telah menerima kapal tersebut dan siap menggunakannya untuk kegiatan operasional. Perseroan membiayai pembelian melalui pinjaman investasi dari Bank IBK senilai Rp120 miliar.

Harga pembelian kapal tercatat lebih rendah daripada nilai pasar. Penilaian independen KJPP menetapkan nilai pasar sebesar Rp230,91 miliar per 28 September 2026.

Nilai transaksi setara dengan 31,80% ekuitas BBRM per 31 Desember 2024. Saat itu, ekuitas perusahaan tercatat USD38 juta.

Perjanjian pembelian awal telah ditandatangani pada 30 Oktober 2024. Karena itu, transaksi tersebut tidak memerlukan persetujuan RUPS berdasarkan basis materialitas yang digunakan perseroan.

Penambahan kapal memperkuat bisnis kapal penunjang lepas pantai BBRM. Pada 1H26, segmen tersebut menyumbang USD6,21 juta atau sekitar 93,41% dari total pendapatan.

Pendapatan segmen kapal penunjang lepas pantai juga tumbuh 13,67% secara tahunan. Pada 1H25, segmen tersebut mencatat pendapatan USD5,46 juta.

Sebaliknya, pendapatan dari segmen self-propelled barge turun 69,20% menjadi USD0,44 juta.

BRNA Siapkan Rights Issue Rp372,61 Miliar

Berlina (BRNA) menjalankan rights issue atau PMHMETD III dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 543,95 juta saham baru.

BRNA menetapkan harga pelaksanaan Rp685 per saham. Dengan jumlah tersebut, nilai emisi maksimal mencapai Rp372,61 miliar.

Dalam aksi korporasi ini, BRNA juga menerbitkan 181,32 juta Waran Seri I secara cuma-cuma. Perseroan menetapkan rasio 3:1 dengan harga pelaksanaan waran Rp800 per saham.

Sebagian besar dana rights issue akan digunakan untuk menyelesaikan pokok utang kepada pemegang saham utama PT Dwi Satrya Utama (DSU). Nilainya mencapai sekitar 70,95% atau Rp264,38 miliar.

BRNA akan menyelesaikan kewajiban tersebut melalui konversi utang menjadi saham atau set-off. Dengan mekanisme tersebut, bagian dana tersebut tidak menghasilkan penerimaan kas.

Sementara itu, dana tunai dari pemegang saham selain DSU akan perusahaan gunakan sebagai modal kerja. Penggunaan tersebut mencakup pembelian bahan baku dan bahan penolong.

BRNA menetapkan rasio HMETD sebesar 9:5. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi maksimal 35,71%.

DSU saat ini memiliki 54,57% saham BRNA. Setelah pelaksanaan HMETD, kepemilikannya diproyeksikan meningkat menjadi 60,97%.

Perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 14-21 Oktober 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Sejumlah saham masuk dalam daftar rekomendasi perdagangan hari ini. Level yang tercantum meliputi area beli, target harga, dan batas penghentian kerugian.

  • ENRG - Buy 1395-1405 | TP 1435-1455 | SL 1325
  • COCO - Buy 108-110 | TP 113-115 | SL 102
  • GEMS - Buy 8075-8125 | TP 8250-8350 | SL 7625
  • DSSA - Buy 1105-1115 | TP 1135-1150 | SL 1055
  • BULL - Buy 342-346 | TP 352-358 | SL 324

Rekomendasi tersebut bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar dan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Kesimpulan

IHSG melemah 1,02% pada perdagangan Kamis (1/10) dan berakhir di level 6.009,50. Tekanan datang dari aksi jual asing serta pelemahan mayoritas sektor.

Namun, sejumlah saham masih mencatat penguatan. Selain itu, kabar korporasi dari GEMS, BBRM, dan BRNA menjadi perhatian di tengah dinamika pasar saham.

Dengan demikian, investor perlu mencermati pergerakan indeks, sektor, saham berkapitalisasi besar, serta perkembangan aksi korporasi dalam menentukan langkah investasi.

[/CONTENT]
Otak Online
Media informasi seputar Berita terkini, Kripto, Airdrop,Teknologi, Gadget, Industri Game, Industri Film, Lifestyle etc.