Katalis Bisnis Mitratel MTEL Usai Merger dan Ekspansi 5G
OtakOnline.com - Jakarta — Katalis bisnis Mitratel MTEL semakin menjadi perhatian pasar setelah perusahaan menyiapkan aksi merger dua anak usaha sekaligus mempercepat ekspansi infrastruktur telekomunikasi di luar Pulau Jawa. Langkah ini dinilai dapat memperkuat posisi perseroan di tengah pertumbuhan kebutuhan layanan digital dan internet berkecepatan tinggi di Indonesia.
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel menjadi salah satu emiten menara telekomunikasi yang aktif melakukan penguatan bisnis sepanjang 2026. Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk tersebut tengah menggabungkan PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) ke dalam entitas utama perusahaan.
Aksi korporasi itu telah memperoleh persetujuan dewan komisaris masing-masing perusahaan pada 6 Mei 2026. Namun, proses merger masih menunggu persetujuan rapat umum pemegang saham serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika seluruh proses berjalan lancar, penggabungan usaha ditargetkan efektif mulai 1 Juli 2026.
Katalis Bisnis Mitratel MTEL dari Merger Anak Usaha
Katalis bisnis Mitratel MTEL dinilai semakin kuat setelah perusahaan melakukan konsolidasi internal. Langkah merger PST dan UMT dipandang mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat pengelolaan aset telekomunikasi yang dimiliki perusahaan.
Selain itu, aksi penggabungan usaha tersebut diyakini dapat menyederhanakan struktur bisnis perseroan. Dengan struktur yang lebih ramping, Mitratel memiliki peluang meningkatkan efektivitas pengembangan jaringan dan memperbesar potensi pendapatan berulang dari penyewaan menara.
Di sisi lain, Mitratel juga terus memperluas jangkauan bisnis ke wilayah luar Jawa. Strategi ini dianggap penting karena kebutuhan infrastruktur telekomunikasi di daerah masih terus tumbuh, terutama untuk mendukung pemerataan akses internet.
Analis Panin Sekuritas Aqil Triyadi menilai kemampuan Mitratel mempertahankan pertumbuhan tenancy ratio menjadi sinyal positif di tengah konsolidasi industri operator telekomunikasi nasional. Tenancy ratio merupakan rata-rata jumlah penyewa pada setiap menara telekomunikasi.
Pada kuartal pertama 2026, tenancy ratio Mitratel meningkat menjadi 1,57 kali. Angka tersebut naik seiring pertumbuhan kolokasi yang mencapai 23.006 unit atau tumbuh 11,3 persen secara tahunan.
Ekspansi Luar Jawa Dorong Pertumbuhan MTEL
Pertumbuhan bisnis Mitratel tidak lepas dari strategi ekspansi operator seluler ke luar Pulau Jawa. Saat ini lebih dari 59 persen portofolio menara Mitratel berada di wilayah luar Jawa, termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal atau 3T.
Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi perseroan untuk meningkatkan jumlah penyewa menara. Selain operator seluler, kebutuhan infrastruktur juga datang dari layanan internet berbasis Fixed Wireless Access atau FWA.
Program Internet Rakyat berbasis FWA diperkirakan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan bisnis menara telekomunikasi dalam beberapa tahun ke depan. Teknologi ini membutuhkan dukungan jaringan menara untuk memancarkan sinyal internet ke rumah pelanggan.
Menurut Aqil, operator Internet Rakyat seperti MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk memiliki target ekspansi agresif. Karena itu, kebutuhan penyewaan menara diperkirakan akan meningkat.
Peluang Kolokasi Semakin Besar
Mitratel dipandang berada dalam posisi strategis untuk menangkap peluang tersebut. Pasalnya, membangun infrastruktur baru secara mandiri membutuhkan biaya besar dan waktu yang panjang.
Karena itu, operator internet dinilai lebih efisien menggunakan menara yang sudah tersedia. Strategi kolokasi ini juga memberikan keuntungan bagi Mitratel karena dapat meningkatkan pendapatan tanpa menambah biaya operasional secara signifikan.
Beberapa faktor yang mendukung pertumbuhan kolokasi Mitratel antara lain:
- Ekspansi layanan internet berbasis FWA
- Pertumbuhan kebutuhan jaringan 5G
- Peningkatan trafik data nasional
- Pengembangan jaringan di wilayah 3T
- Efisiensi operator melalui penyewaan menara
Selain itu, kenaikan tenancy ratio biasanya menghasilkan margin keuntungan yang lebih tinggi. Pendapatan tambahan dari tenant baru dapat langsung meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Kinerja Keuangan Mitratel Tetap Solid
Katalis bisnis Mitratel MTEL juga tercermin dari performa keuangan perusahaan sepanjang kuartal pertama 2026. Perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp 2,29 triliun atau naik 1,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba bersih Mitratel meningkat 3,6 persen menjadi Rp 545 miliar. EBITDA margin perusahaan juga tetap tinggi di level 82,7 persen. Angka tersebut menunjukkan efisiensi bisnis perseroan masih sangat terjaga.
Tidak hanya mengandalkan bisnis menara, Mitratel juga terus memperkuat jaringan fiber optic. Hingga kuartal pertama 2026, panjang fiber optic billable length perusahaan tumbuh 17,3 persen menjadi 72.842 kilometer.
Penguatan fiberisasi menjadi langkah penting untuk mendukung kebutuhan kapasitas jaringan dan pengembangan teknologi 5G. Selain itu, kebutuhan layanan digital dengan latensi rendah juga terus meningkat di berbagai sektor industri.
Dari sisi likuiditas, Mitratel memiliki posisi keuangan yang cukup sehat. Arus kas neto dari aktivitas operasi mencapai Rp 4 triliun, sementara kas dan setara kas meningkat menjadi Rp 2,84 triliun.
Total aset perusahaan tercatat sebesar Rp 60,56 triliun dengan ekuitas mencapai Rp 33,66 triliun. Kondisi ini memberikan ruang yang cukup bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi bisnis dalam jangka panjang.
Rekomendasi Saham MTEL Masih Buy
Prospek positif bisnis Mitratel membuat sejumlah analis masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MTEL. Mirae Asset Sekuritas misalnya, tetap memberikan target harga Rp 760 per saham.
Mirae menilai pertumbuhan laba Mitratel relatif stabil dengan fundamental keuangan yang kuat. Selain itu, prospek pengembangan fiberisasi 5G dan meningkatnya kebutuhan layanan FWA dipandang menjadi katalis utama perusahaan.
Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan industri telekomunikasi dan persaingan bisnis infrastruktur digital. Meskipun begitu, peluang pertumbuhan sektor data dan internet di Indonesia masih sangat besar dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan kombinasi merger anak usaha, ekspansi luar Jawa, dan pertumbuhan layanan digital, Mitratel dinilai memiliki posisi strategis untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan hingga akhir 2026.

0 Komentar Untuk "Katalis Bisnis Mitratel MTEL Usai Merger dan Ekspansi 5G"
Posting Komentar