PR Besar Dekarbonisasi Transportasi Indonesia Masih Panjang
JAKARTA, OtakOnline.com - Dekarbonisasi transportasi menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia di tengah tingginya konsumsi bahan bakar minyak dan emisi karbon nasional. Sektor transportasi kini menjadi penyerap energi terbesar kedua setelah industri dengan kontribusi mencapai 38 persen pada 2025.
Selain itu, sektor ini juga menyumbang sekitar 23 persen emisi CO2 nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi energi di bidang transportasi tidak lagi bisa ditunda. Pemerintah dan pelaku industri kini mulai mendorong penggunaan energi yang lebih bersih.
Meski begitu, tantangan dekarbonisasi transportasi di Indonesia masih sangat kompleks. Pengembangan biodiesel, bioetanol, kendaraan listrik, hingga bioavtur membutuhkan dukungan regulasi, infrastruktur, dan investasi yang tidak sedikit.
Program B50 Jadi Andalan Dekarbonisasi Transportasi
Pemerintah resmi mendorong implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Program ini menggunakan campuran 50 persen bahan nabati berbasis minyak kelapa sawit atau CPO pada bahan bakar diesel.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu langkah paling nyata dalam upaya dekarbonisasi transportasi nasional. Selain mengurangi impor solar, program B50 juga memperkuat hilirisasi industri sawit domestik.
Keunggulan utama B50 terletak pada fleksibilitas penggunaannya. Kendaraan diesel yang saat ini beredar tetap dapat menggunakan biosolar tanpa perlu modifikasi mesin tambahan.
Di sisi lain, Indonesia juga sudah menjadi salah satu produsen biodiesel terbesar di dunia. Hal itu memberikan modal penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan kebutuhan pangan. Pasokan CPO serta stabilitas harga juga menjadi faktor penting agar program berjalan berkelanjutan.
Tantangan Pasokan dan Harga CPO
Ketersediaan bahan baku menjadi perhatian utama dalam pengembangan biodiesel B50. Jika permintaan energi meningkat drastis, kebutuhan CPO nasional juga ikut melonjak.
Karena itu, pemerintah harus memastikan produksi sawit tetap stabil. Selain itu, kebijakan ekspor dan distribusi dalam negeri perlu diatur secara hati-hati agar tidak memicu lonjakan harga.
Bioetanol Dinilai Punya Potensi Besar
Selain biodiesel, pemerintah juga mulai mempercepat pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif. Program ini menjadi penting karena bensin masih menjadi salah satu produk energi impor terbesar Indonesia.
Pemerintah bahkan telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2023 sebagai dasar percepatan swasembada energi dan penyediaan bioetanol.
Roadmap Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM menargetkan campuran E5 pada periode 2024-2028. Sementara itu, target E10 diproyeksikan tercapai pada 2029-2035.
Meski memiliki prospek besar, pengembangan bioetanol masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan bahan baku seperti tebu, jagung, dan singkong.
Komoditas tersebut juga dibutuhkan sebagai bahan pangan. Karena itu, pemerintah harus mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan konsumsi masyarakat.
Selain faktor pasokan, harga bioetanol juga harus kompetitif dibandingkan bensin. Tanpa harga yang menarik, masyarakat diperkirakan akan sulit beralih ke bahan bakar campuran etanol.
Brasil sering dijadikan contoh keberhasilan pengembangan bioetanol dunia. Negara tersebut sukses membangun integrasi antara sektor pertanian, industri gula, bioetanol, hingga pembangkit listrik biomassa.
Indonesia dinilai bisa belajar dari pengalaman tersebut. Namun, kepastian pasar dan dukungan investasi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Kendaraan Listrik Mulai Tumbuh
Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan tren positif. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo mencatat penjualan kendaraan listrik naik 53 persen pada semester pertama 2026.
Kenaikan itu menunjukkan minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan mulai tumbuh. Meski begitu, pangsa pasar kendaraan listrik nasional masih tergolong kecil.
Ada beberapa hambatan yang masih dirasakan masyarakat sebelum beralih ke kendaraan listrik, antara lain:
- Harga kendaraan listrik masih relatif mahal.
- Infrastruktur stasiun pengisian daya belum merata.
- Kekhawatiran soal jarak tempuh kendaraan.
- Standarisasi baterai belum sepenuhnya jelas.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung. Insentif pembelian kendaraan listrik juga dianggap penting untuk meningkatkan daya tarik pasar.
Selain itu, standardisasi baterai perlu segera diterapkan agar konsumen tidak mengalami kesulitan saat menggunakan fasilitas pengisian daya lintas merek.
Bioavtur dan Masa Depan Penerbangan Hijau
Dekarbonisasi transportasi juga mulai menyasar sektor penerbangan. Pengembangan Sustainable Aviation Fuel atau SAF menjadi salah satu solusi yang kini terus diuji.
Jenis bioavtur yang paling potensial adalah Hydrotreated Vegetable Oil atau HVO serta Hydroprocessed Esters and Fatty Acids atau HEFA.
Saat ini, uji coba bioavtur pada pesawat komersial telah mencapai campuran J2.4 atau 2,4 persen. Pemerintah menargetkan campuran 3 persen dapat diterapkan pada 2026.
Namun, harga bioavtur masih jauh lebih mahal dibandingkan avtur konvensional. Karena itu, adopsi massal diperkirakan baru berkembang secara luas dalam beberapa tahun mendatang.
Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan bioavtur karena didukung sumber daya nabati yang melimpah.
Dekarbonisasi Transportasi Butuh Strategi Bertahap
Pengamat menilai bioetanol dan kendaraan listrik tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru bisa saling melengkapi dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
Bioetanol dinilai cocok untuk kendaraan yang sudah beredar saat ini. Sementara itu, kendaraan listrik lebih tepat menjadi solusi jangka panjang untuk kendaraan baru.
Di negara maju, transisi kendaraan listrik berlangsung lebih cepat karena dukungan infrastruktur dan daya beli masyarakat lebih tinggi. Namun, kondisi Indonesia berbeda karena geografis kepulauan dan tingkat ekonomi masyarakat yang beragam.
Karena itu, pendekatan bertahap dianggap lebih realistis untuk mempercepat dekarbonisasi transportasi nasional.
Selain itu, sumber listrik untuk kendaraan listrik juga harus berasal dari energi bersih. Jika listrik masih berasal dari pembangkit

0 Komentar Untuk "PR Besar Dekarbonisasi Transportasi Indonesia Masih Panjang"
Posting Komentar