Perubahan Iklim Ancam Indonesia Rugi Rp 544 Triliun per Tahun

OtakOnline.com - Jakarta - Perubahan iklim kini bukan lagi sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya telah berkembang menjadi ancaman serius bagi perekonomian nasional dengan potensi kerugian mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun apabila tidak segera ditangani.

Perubahan iklim mengancam Indonesia dengan potensi kerugian Rp 544 triliun per tahun. Pemerintah menyiapkan strategi mitigasi.

Pemerintah menilai risiko tersebut semakin nyata. Ancaman kenaikan muka air laut, banjir rob, hingga penurunan muka tanah diperkirakan akan memengaruhi berbagai sektor strategis, terutama kawasan pesisir yang menjadi pusat aktivitas ekonomi Indonesia.

Karena itu, pemerintah mulai memperkuat berbagai langkah mitigasi dan adaptasi. Strategi tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Perubahan Iklim Berpotensi Rugikan Indonesia Rp 544 Triliun Setiap Tahun

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan ekonomi yang sangat serius.

Menurutnya, dalam skenario terburuk Indonesia dapat mengalami kerugian hingga Rp544 triliun setiap tahun akibat berbagai dampak perubahan iklim.

Jika kondisi tersebut berlangsung sejak 2026 hingga akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2029, total potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp2.176 triliun.

Rachmat menjelaskan bahwa saat ini terdapat sedikitnya 319 kabupaten dan kota dengan tingkat kerentanan iklim yang sangat tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, pembangunan, hingga kesejahteraan masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa nilai kerugian tersebut setara dengan sekitar dua pertiga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh sebab itu, penanganan perubahan iklim harus menjadi prioritas nasional.

Wilayah Pesisir Menjadi Daerah Paling Rentan

Selain besarnya potensi kerugian ekonomi, pemerintah juga menyoroti kondisi garis pantai Indonesia yang semakin rentan terhadap perubahan iklim.

Saat ini sekitar 18.000 kilometer garis pantai berada dalam kategori rentan hingga sangat rentan terhadap berbagai ancaman.

Ancaman tersebut meliputi:

  • Banjir rob yang semakin sering terjadi.

  • Penurunan muka tanah di berbagai wilayah pesisir.

  • Kenaikan permukaan air laut.

  • Berkurangnya lahan produktif.

  • Kerusakan infrastruktur pesisir.

Sementara itu, Pulau Jawa menjadi wilayah yang paling mendapat perhatian. Kawasan pantai utara atau Pantura memiliki peran besar dalam perekonomian nasional.

Sekitar 27 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berasal dari aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Selain itu, sekitar 60 persen industri nasional juga beroperasi di wilayah pesisir utara Jawa.

Karena konsentrasi industri yang sangat tinggi, dampak perubahan iklim diperkirakan akan memengaruhi rantai pasok, distribusi barang, hingga investasi.

Di sisi lain, Jakarta juga menghadapi risiko yang tidak kecil. Pemerintah memperkirakan ibu kota dapat mengalami kerugian sekitar US$186 juta setiap tahun akibat banjir, kerusakan bangunan, rusaknya infrastruktur, serta hilangnya lahan produktif.

Pemerintah Siapkan Tiga Strategi Menghadapi Perubahan Iklim

Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah menyusun tiga pilar utama sebagai langkah pencegahan dan mitigasi perubahan iklim.

Strategi pertama adalah pengendalian sumber persoalan melalui pengelolaan air yang lebih baik.

Program ini meliputi:

  • Pengendalian penggunaan sumur bor.

  • Pengelolaan air tanah secara berkelanjutan.

  • Pengurangan beban pembangunan di kawasan pesisir.

Selain itu, pemerintah juga mendorong kebijakan pembangunan yang lebih memperhatikan daya dukung lingkungan.

Strategi kedua adalah restorasi ekosistem pesisir.

Pemerintah akan memperluas rehabilitasi hutan mangrove sebagai benteng alami terhadap abrasi dan gelombang laut.

Tidak hanya itu, program reforestasi besar-besaran seluas 12 juta hektare juga terus dijalankan untuk meningkatkan ketahanan lingkungan sekaligus menyerap emisi karbon.

Meskipun begitu, pemerintah menyadari bahwa upaya konservasi saja belum cukup. Karena itu, pembangunan infrastruktur tetap menjadi bagian penting dari strategi nasional.

Infrastruktur dan Teknologi Jadi Kunci Mitigasi

Strategi ketiga difokuskan pada pembangunan kawasan pesisir berbasis data melalui Sistem Perencanaan Kolaboratif dan Analisis Data Terpadu atau SEPAKAT.

Sistem tersebut akan digunakan untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih akurat berdasarkan kondisi lapangan.

Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa di kawasan Pantai Utara Jawa.

Proyek tersebut dirancang untuk mengurangi risiko banjir rob sekaligus melindungi kawasan industri, permukiman, serta infrastruktur vital nasional.

Selain pembangunan fisik, pemerintah juga menyiapkan penguatan infrastruktur sosial, ekonomi, dan digital agar masyarakat lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat upaya mitigasi.

Dengan berbagai tantangan yang ada, perubahan iklim kini menjadi isu strategis yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan hidup, tetapi juga menyangkut ketahanan ekonomi nasional. Langkah antisipasi yang dilakukan sejak sekarang diharapkan mampu mengurangi potensi kerugian besar sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan Indonesia pada masa mendatang.

0 Komentar Untuk "Perubahan Iklim Ancam Indonesia Rugi Rp 544 Triliun per Tahun"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel