Petinggi Taksi Blue Bird Jual 52 Juta Saham BIRD

OtakOnline.com – JAKARTA - Petinggi Taksi Blue Bird kembali menjadi sorotan setelah salah satu anggota Dewan Komisaris PT Blue Bird Tbk (BIRD) melepas puluhan juta lembar saham perseroan. Nilai transaksi tersebut mencapai lebih dari Rp78 miliar dan telah dilaporkan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Petinggi Taksi Blue Bird Jual 52 Juta Saham BIRD

Aksi penjualan saham itu dilakukan oleh dr. Sri Adriyani Lestari yang merupakan anggota Dewan Komisaris PT Blue Bird Tbk. Transaksi berlangsung pada 15 Juni 2026 dengan jumlah saham yang dilepas mencapai 52.560.000 lembar saham biasa.

Meski melepas sebagian besar kepemilikan sahamnya, manajemen menegaskan bahwa transaksi tersebut dilakukan untuk kepentingan pribadi. Selain itu, pengendalian terhadap perusahaan tetap dipertahankan sehingga tidak mengubah struktur pengendali Blue Bird.

Petinggi Taksi Blue Bird Lepas 52,56 Juta Saham

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, dr. Sri Adriyani Lestari menjual sebanyak 52.560.000 saham BIRD dengan harga Rp1.490 per saham. Harga tersebut berada di bawah harga pasar pada saat transaksi berlangsung.

Pada perdagangan 15 Juni 2026, saham Blue Bird sempat menyentuh harga terendah Rp1.545 per saham. Sementara itu, pada penutupan perdagangan hari yang sama, saham BIRD justru menguat hingga berada di level Rp1.610 per saham.

Dengan harga transaksi Rp1.490 per saham, nilai penjualan mencapai sekitar Rp78,31 miliar. Dalam penjelasan resmi kepada BEI, perusahaan menyebut tujuan transaksi tersebut adalah untuk koreksi pribadi.

Meskipun harga jual berada di bawah harga pasar saat itu, transaksi tetap dilaporkan sesuai ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku di pasar modal Indonesia.

Kepemilikan Saham Berkurang Signifikan

Setelah transaksi selesai, kepemilikan saham Sri Adriyani Lestari mengalami penurunan yang cukup besar. Sebelum penjualan, ia memiliki 62.560.000 saham atau setara dengan 2,50 persen hak suara di perseroan.

Namun, setelah melepas 52.560.000 saham, kepemilikannya tersisa 10.000.000 saham atau sekitar 0,40 persen hak suara.

Di sisi lain, pihak perusahaan memastikan bahwa transaksi tersebut tidak mengubah posisi pengendali Blue Bird. Manajemen bahkan menegaskan bahwa pengendalian terhadap perusahaan tetap dipertahankan.

Sementara itu, pergerakan saham BIRD juga masih menunjukkan tren positif. Pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juli 2026, saham Blue Bird kembali menguat 10 poin dan bertahan di level Rp1.610 per saham.

Rekam Jejak Sri Adriyani Lestari di Blue Bird

Sri Adriyani Lestari bukan sosok baru di lingkungan Blue Bird. Ia telah berkarier selama lebih dari dua dekade dan memegang berbagai posisi strategis dalam grup perusahaan.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1999 tersebut mengawali karier sebagai Assistant Director pada periode 2001 hingga 2004. Pada waktu yang sama, ia juga dipercaya menjadi General Manager Pool Garuda.

Selanjutnya, Sri menjabat sebagai Vice President of Regulatory Affairs selama periode 2006 hingga 2013. Pengalaman tersebut memperkuat perannya dalam pengembangan bisnis dan tata kelola perusahaan.

Selain duduk sebagai Komisaris PT Blue Bird Tbk, Sri juga menjabat sebagai komisaris di sejumlah anak usaha, antara lain:

  • PT Pusaka Satria Utama
  • PT Big Bird Pusaka
  • PT Morante Jaya
  • PT Silver Bird
  • PT Pusaka Bumi Mutiara
  • PT Irdawan Multitrans
  • PT Cendrawasih Pertiwijaya
  • PT Pusaka Nuri Utama
  • PT Lintas Buana Taksi

Tak hanya itu, Sri juga dipercaya sebagai anggota direksi di berbagai perusahaan dalam grup Blue Bird, termasuk PT Pusaka Thrifty, PT Pusaka Prima Transport, PT Blue Bird Pusaka, PT Golden Bird Metro, hingga PT Blue Bird Taxi.

Dampak terhadap Investor dan Saham BIRD

Aksi jual saham oleh pejabat perusahaan biasanya menjadi perhatian pelaku pasar. Namun demikian, alasan transaksi tetap menjadi faktor utama yang diperhatikan investor.

Dalam kasus ini, manajemen menegaskan bahwa penjualan saham dilakukan murni untuk kebutuhan pribadi, bukan karena adanya perubahan prospek bisnis perusahaan. Karena itu, pengendalian perusahaan tetap berada pada pihak yang sama.

Selain itu, pergerakan harga saham BIRD setelah transaksi menunjukkan respons pasar yang relatif stabil. Saham bahkan masih mampu bertahan di zona hijau hingga perdagangan pekan berikutnya.

Bagi investor, keterbukaan informasi seperti ini menjadi bagian penting dalam menjaga transparansi perusahaan publik. Informasi mengenai perubahan kepemilikan saham oleh direksi maupun komisaris dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi.

Dengan penegasan bahwa struktur pengendalian tidak berubah, pasar kini akan lebih mencermati perkembangan kinerja operasional Blue Bird serta prospek bisnis perusahaan pada sisa tahun 2026.

0 Komentar Untuk "Petinggi Taksi Blue Bird Jual 52 Juta Saham BIRD"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel