Panthalassa Bangun Pusat Data AI Tenaga Ombak
OtakOnline.com, Oregon - Ambisi menghadirkan pusat data AI tenaga ombak kini mulai memasuki tahap serius. Startup teknologi laut Panthalassa berhasil mengamankan pendanaan besar untuk mengembangkan pusat data kecerdasan buatan yang beroperasi di laut dalam tanpa listrik dari daratan.
Perusahaan tersebut memperoleh pendanaan Seri B sebesar USD 140 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun. Dana itu akan digunakan untuk mengubah prototipe yang telah diuji menjadi perangkat komersial pertama mereka dalam beberapa tahun ke depan.
Konsep yang ditawarkan Panthalassa terbilang unik. Mereka memanfaatkan energi ombak laut sebagai sumber listrik utama sekaligus menggunakan air laut sebagai pendingin alami untuk server AI. Dengan pendekatan ini, perusahaan ingin mengurangi ketergantungan industri AI terhadap pusat data konvensional di darat.
Pusat Data AI Tenaga Ombak Beroperasi di Laut Dalam
Panthalassa memperkenalkan platform otonom bernama nodes. Struktur ini berupa menara baja besar yang sebagian tubuhnya tenggelam di bawah laut. Sistem tersebut bergerak naik turun mengikuti ayunan ombak.
Gerakan vertikal dari ombak dimanfaatkan untuk mendorong air ke turbin internal. Proses itu menghasilkan listrik dalam sistem tertutup atau closed loop. Energi yang dihasilkan kemudian langsung digunakan untuk menjalankan chip AI di dalam perangkat tersebut.
Menariknya, Panthalassa tidak berniat menyalurkan listrik kembali ke daratan. Seluruh energi dipakai langsung di lokasi tempat pusat data AI tenaga ombak itu beroperasi.
CEO Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson, mengatakan pendekatan tersebut menjadi pembeda utama dibanding proyek energi laut sebelumnya. Menurutnya, banyak proyek gagal karena berupaya mengirim listrik ke pantai melalui kabel jarak jauh.
Selain itu, sistem komputasi pada nodes ditempatkan di kapsul tersegel rapat. Setelah proses AI selesai dijalankan, hasil data dikirimkan ke darat menggunakan jaringan internet satelit seperti Starlink.
Teknologi Pendingin Alami Jadi Keunggulan
Salah satu tantangan terbesar industri AI saat ini adalah kebutuhan pendinginan server. Pusat data modern membutuhkan energi besar hanya untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil.
Namun, Panthalassa memilih pendekatan berbeda. Mereka memanfaatkan air laut sebagai thermal sink alami untuk menyerap panas dari server AI.
Lingkungan laut dalam yang relatif stabil dianggap mampu menjaga suhu perangkat tetap rendah sepanjang waktu. Karena itu, umur perangkat keras juga diklaim bisa lebih panjang dibanding pusat data konvensional.
Di sisi lain, desain nodes dibuat sesederhana mungkin agar tahan menghadapi kondisi laut ekstrem. Struktur baja tersebut tidak menggunakan engsel luar, gearbox terbuka, maupun komponen rumit lain yang mudah rusak.
Desain Dibuat untuk Produksi Massal
Panthalassa menyebut desain mereka lebih mudah diproduksi secara massal. Sebagian besar struktur dibuat menggunakan pelat baja standar yang umum dipakai industri maritim.
Proses perakitannya juga cukup unik. Nodes dirakit di fasilitas pesisir sebelum ditarik secara horizontal oleh kapal menuju laut dalam.
Sesampainya di lokasi operasional, struktur akan ditegakkan secara vertikal. Setelah itu, perangkat dapat bergerak memanfaatkan dorongan ombak dan desain lambung tanpa bantuan mesin utama.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menekan biaya operasional jangka panjang. Selain itu, minimnya komponen bergerak diyakini akan mengurangi kebutuhan perawatan rutin.
Didukung Investor Teknologi Kelas Dunia
Proyek pusat data AI tenaga ombak ini berhasil menarik perhatian investor besar dunia teknologi. Beberapa nama terkenal ikut mendanai pengembangan Panthalassa.
Investor yang terlibat antara lain:
- Peter Thiel
- Marc Benioff melalui TIME Ventures
- Max Levchin melalui SciFi Ventures
Dana segar tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan fasilitas manufaktur percontohan di dekat Portland, Oregon.
Sementara itu, Panthalassa juga telah menyelesaikan pengujian sejumlah prototipe awal. Beberapa model yang sudah diuji meliputi Ocean-1, Ocean-2, dan Wavehopper.
Perusahaan kini menargetkan peluncuran seri Ocean-3 di Pasifik Utara mulai tahun 2026. Jika berjalan sesuai rencana, ekspansi komersial akan dimulai pada 2027.
Energi Ombak Dinilai Cocok untuk Masa Depan AI
Kebutuhan energi industri AI terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan teknologi mulai mencari sumber energi alternatif yang lebih stabil dan ramah lingkungan.
Panthalassa melihat laut sebagai solusi potensial. Menurut Sheldon-Coulson, ombak pada dasarnya merupakan bentuk energi matahari yang tersimpan secara alami.
Ia menjelaskan bahwa ombak tetap bergerak bahkan ketika angin berhenti. Karena itu, energi ombak dianggap lebih konsisten dibanding beberapa sumber energi terbarukan lainnya.
Selain menghasilkan listrik, konsep pusat data AI tenaga ombak juga dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap jaringan listrik darat. Hal itu menjadi penting karena konsumsi energi pusat data global terus melonjak seiring pertumbuhan teknologi AI generatif.
Meskipun begitu, tantangan tetap ada. Infrastruktur laut dalam membutuhkan biaya besar serta ketahanan tinggi terhadap cuaca ekstrem. Namun, Panthalassa optimistis pendekatan mereka bisa menjadi bagian penting dari masa depan industri AI dunia.
Jika proyek ini berhasil, pusat data AI tenaga ombak berpotensi membuka era baru komputasi lepas pantai yang lebih efisien dan berkelanjutan.

0 Komentar Untuk "Panthalassa Bangun Pusat Data AI Tenaga Ombak"
Posting Komentar